Saat ini rupiah berada di kisaran Rp17.475 per dolar. Sedangkan harga minyak dunia di atas USD100 per barel.
Pelebaran defisit APBN akan menambah jumlah utang pemerintah yang kini berada di angka Rp9.920 triliun atau setara 40,75% PDB. Semakin besar utang, tentu semakin menguras APBN untuk membayar cicilan pokok dan bunganya.
Tak pelak, anggaran untuk program-program produktif akan terganggu sehingga pertumbuhan ekonomi pun terdampak.
Jika risiko fiskal bisa ditekan, investor asing akan kembali masuk. Alhasil, IHSG akan terdongkrak. Pasalnya, porsi investor asing di bursa mencapai 48,5%, sebuah angka yang sangat menentukan.
Jadi, jika harus belajar dari India hanya untuk mendongkrak IHSG karena faktor MSCI, mudah saja. Tapi jika terkait menekan risiko fiskal, ya tak semudah itu ferguso. “Untuk pasar modal mungkin bisa. Yang fiskal yang jadi PR saat ini,” pungkas Hans Kwee. (*)




