Begitu pula data terkait lonjakan inventori dalam tabel Supply and Use Table (SUT) yang dinilai tidak wajar. Inventori melonjak dari Rp4,2 triliun pada kuartal IV-2025 menjadi Rp104 triliun di kuartal I-2026, atau naik 25 kali lipat hanya dalam satu kuartal.
Lonjakan itu kemungkinan besar merupakan residual rekonsiliasi statistik, bukan aktivitas penimbunan stok riil oleh perusahaan.
Baca Juga:Â Fundamental Kokoh, Saham Pertamina Group Tahan Banting di Tengah Fluktuasi Pasar Modal 2026
Keraguan atas data BPS terkait pertumbuhan ekonomi bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya, pada awal Agustus tahun lalu, Center of Economic and Law Studies (Celios) menyurati Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memeriksa Badan Pusat Statistik (BPS) soal data pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12% pada kuartal II 2025.
Celios berpandangan data pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS itu tidak mencerminkan kondisi nyata di masyarakat.
Nah, tantangan terbesar untuk membangkitkan kembali bursa saham adalah menarik kembali para investor, terutama asing, untuk masuk. Salah satu caranya adalah menekan risiko fiskal yang saat ini terjadi.
Defisit APBN hingga Maret 2026 tercatat sekitar Rp240 triliun atau setara 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Tak menutup kemungkinan, angka itu bisa terus membengkak jika rupiah kian melemah dan harga minyak dunia semakin melambung akibat geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
Baca Juga:Â Pasar Modal Tembus 26 Juta Investor, BEI Rilis Kampanye Karbon Individu Aku Net-Zero Hero




