Produksi Naik, Harga Tetap Punya Banyak Penentu
Pada Juli 2026, rata-rata harga beras premium secara nasional berada di sekitar Rp15.972 per kilogram, sedangkan beras medium berada di sekitar Rp13.564 per kilogram. Harga medium tersebut memang masih berada dalam rentang HET nasional, tetapi tetap terasa signifikan bagi rumah tangga yang menjadikan beras sebagai kebutuhan rutin.
Baca Juga:Â Sektor Transportasi, Pangan, dan Emas Perhiasan Dorong Inflasi Pada Juli 2026
BPS juga mencatat rata-rata harga beras premium di tingkat penggilingan pada Juli 2026 mencapai Rp14.880 per kilogram, sementara beras medium mencapai Rp13.694 per kilogram. Harga di penggilingan bahkan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Perbedaan antara harga gabah, harga penggilingan, harga grosir, dan harga eceran menunjukkan adanya biaya yang terus bergerak di sepanjang rantai pasok.
Petani harus membayar tenaga kerja, pupuk, benih, sewa lahan, irigasi, dan biaya produksi lainnya. Penggilingan membutuhkan energi, tenaga kerja, mesin, serta biaya penyimpanan. Pedagang harus menanggung transportasi dan risiko stok. Semua biaya tersebut akhirnya masuk ke dalam harga jual.
Masalah Besarnya Ada di Rantai Pasok
Indonesia memiliki wilayah produksi beras yang tersebar, sementara pusat konsumsi terbesar berada di kawasan perkotaan. Kondisi geografis tersebut membuat distribusi menjadi faktor penting dalam pembentukan harga.
Kasus di daerah terpencil memperlihatkan persoalan tersebut dengan jelas. Bapanas mencatat harga beras di wilayah pedalaman Alor dapat mencapai Rp17.000–Rp18.000 per kilogram, bahkan naik hingga Rp25.000–Rp30.000 ketika cuaca menghambat distribusi antarpulau.




