“Semangat Kartini adalah tentang keberanian mengambil peran strategis. Perempuan PTK berkontribusi dalam menjaga integritas, membangun kepercayaan stakeholder, serta memperkuat nilai perusahaan yang berkelanjutan,” tutur Amran.
Peran para perwira perempuan ini tersebar luas, mencakup manajemen armada, layanan pelabuhan, hingga fungsi krusial Health, Safety, Security, and Environment (HSSE).
Kehadiran mereka di lini tersebut terbukti memperkuat stabilitas distribusi energi, terutama untuk wilayah kepulauan dengan akses terbatas yang membutuhkan tingkat disiplin keselamatan tinggi.
Digitalisasi dan Inklusi
Untuk mendukung kompleksitas distribusi energi, PTK telah mengintegrasikan sistem pemantauan real-time dan digitalisasi armada.
Amran menilai, keberagaman perspektif yang dibawa oleh perwira perempuan sangat membantu dalam proses pengambilan keputusan di lapangan yang kian dinamis.
Baca Juga: Strategi Jalur Ganda Pertamina: Antara Ketahanan Energi Nasional dan Ambisi Transisi Hijau 2045
“Keberagaman perspektif, termasuk dari Perwira Perempuan, mampu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan serta respons terhadap dinamika di lapangan,” jelasnya.
Dampak dari penguatan SDM inklusif ini dirasakan langsung oleh mitra bisnis dan masyarakat. Layanan menjadi lebih terencana, andal, dan risiko keterlambatan distribusi energi dapat ditekan seminimal mungkin.
Ke depan, PTK berkomitmen untuk terus membuka ruang bagi perempuan di posisi nakhoda strategis.
Bagi perusahaan, keandalan distribusi energi nasional tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi armada, tetapi juga pada kapasitas manusia yang memastikan setiap tetes energi sampai ke tujuan dengan aman. (*)






