URBANCITY.CO.ID – Kebakaran lahan di kawasan Gunung Bromo mendapat perhatian luas media internasional. Musibah di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini membakar sekitar 550 hektar lahan.
Kantor berita Reuters menerbitkan laporan khusus mengenai musibah ini pada Senin, 10 Agustus 2026. Selain Reuters, media Singapura AsiaOne juga turut memberitakan kebakaran tersebut.
Pemberitaan asing ini menunjukkan perhatian dunia terhadap destinasi wisata alam Indonesia. Bromo tidak hanya memiliki nilai ekologis penting, tetapi juga menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara.
Kemunculan Titik Api Baru di Kaldera Bromo
Kepala BPBD setempat, Gatot Soebroto, mengonfirmasi status pemadaman awal. Kebakaran seluas 550 hektar berhasil padam pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Namun, petugas menemukan titik api baru di kawasan kaldera Bromo seluas 20 hektar. Titik api baru ini berpotensi kembali meluas.
“Api di sekitar kaldera kemungkinan akan menyebar lebih jauh pada Senin,” kata Gatot kepada Reuters.
Ratusan Personel dan Helikopter Dikerahkan
Pemerintah bergerak cepat merespons kemunculan titik api baru. Lebih dari 120 personel gabungan langsung diterjunkan ke lokasi.
Tim menggunakan tiga helikopter water bombing, drone pemantau, serta armada pemadam kebakaran. Otoritas juga menutup sementara kawasan TNBTS sejak Sabtu malam, 8 Agustus 2026.
Dugaan Kelalaian Manusia di Jalur Pengunjung
Laporan tidak mencatat adanya korban jiwa dalam peristiwa kebakaran ini. Kendati demikian, petugas menduga kuat faktor kelalaian manusia sebagai penyebab awal.
Petugas menemukan titik api pertama berada di jalur lalu lintas pengunjung. Kelalaian memadamkan api pemicu memicu kobaran lahan yang meluas.
“Seseorang menyalakan api, kemudian memadamkannya, tetapi api tersebut belum sepenuhnya padam,” ujar Gatot.
Hingga kini, pemantauan dan pemadaman intensif masih berlangsung di sekitar kaldera Bromo.




