Baca Juga: Sasar Pasar Global, Pertamina Drilling Unjuk Gigi Teknologi Rig Lepas Pantai
Uniknya, Pertamina juga mulai memasang panel surya di atas dek kapal tanker untuk memasok kebutuhan listrik armada secara mandiri saat berlayar.
Sementara di industri dirgantara, lewat maskapai Pelita Air, Pertamina menguji coba Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Bahan bakar aviasi masa depan ini diracik menggunakan minyak jelantah (used cooking oil) untuk memangkas jejak karbon penerbangan komersial.
Langkah industri ini dinilai membutuhkan sokongan riset ilmiah yang kuat agar aplikatif di lapangan.
“Universitas Pertamina berkomitmen menjadi jembatan yang menghubungkan riset, inovasi, pengembangan SDM, dan aksi nyata guna mendukung terciptanya ekosistem energi berkelanjutan di Indonesia,” ujar Acting Rector Universitas Pertamina, Djoko Triyono.
Baca Juga: Cari Calon Pemimpin Hijau, Pertamina Goes to Campus 2026 Resmi Gebrak ITB
Bahan Bakar Transisi Jadi Kunci Penyelamat Lingkungan
Fase awal pergeseran menuju mobilitas hijau ini diakui dunia internasional sebagai tantangan industri terbesar abad ini.
Guru Besar dari University of Southern California (USC) Sol Price, Prof. Marlon Boarnet, memaparkan bahwa biofuel memiliki posisi krusial sebagai komoditas transisi sebelum ekosistem energi bersih sepenuhnya matang.
Untuk sektor pelayaran laut yang sulit didekarbonisasi, penggunaan energi berdensitas tinggi seperti amonia hijau adalah solusi mutlak.
Transformasi ini bukan lagi sekadar mematuhi regulasi di atas kertas, melainkan adu cepat inovasi bisnis di tingkat global.






