Jejak Karbala yang Melebur dalam Tradisi Lokal
Menelisik sejarahnya, Festival Tabut bukanlah sekadar hura-hura pemanggil turis. Tradisi ini memiliki akar historis yang menghunjam jauh ke peristiwa tragis di Padang Karbala, Irak, pada tahun 680 Masehi, yang mengenang gugurnya Imam Husein bin Ali—cucu Nabi Muhammad SAW.
Baca juga:Â Mendag Budi Santoso Pacu Ekonomi Komunitas Lewat Festival Burung Berkicau dan Bazar UMKM
Estafet ingatan sejarah ini kemudian bermigrasi ke Bengkulu via rombongan pekerja Muslim keturunan India yang diboyong oleh kongsi dagang kolonial Inggris pada masa lampau.
Di tanah Sumatra, benih tradisi tersebut mengalami proses akulturasi yang intens dengan kebudayaan lokal Bengkulu.
Kendati nilai religiusitasnya tetap dijaga ketat agar tidak melenceng dari pakem, bungkus ekspresinya kini melebar menjadi pesta kebudayaan rakyat yang menjadi identitas kebanggaan masyarakat Bengkulu.
Selama sepuluh hari penuh, warga dan pelancong akan disuguhi rangkaian upacara adat yang rigid dan penuh pralambang filosofis.
Ritus akan dimulai dari Doa Memohon Keselamatan, Pamit Rajo Agung, Ngambik Tanah, Duduk Penja, Menjara, Arak Penja, Arak Sorban, Gam, Tabut Naik Puncak, Arak Gedang atau Tabut Besanding, Soja, hingga puncaknya yakni Tabut Tebuang dan ditutup dengan Doa Penutup.
Baca juga:Â Bali Spirit Festival 2026: Menpar Widiyanti Bidik Pasar Wellness Global
Seluruh teatrikal suci ini merefleksikan epik perjuangan syiar Islam, kebersamaan, serta rasa syukur manusia kepada Sang Pencipta alam semesta.




