URBANCITY.CO.ID – Bagi profesional muda dan generasi urban, memulai bisnis bukan lagi sekadar mencari nafkah, melainkan instrumen investasi strategis untuk meraih kemandirian finansial.
Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Helvi Moraza mempercepat langkah kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan korporasi guna mencetak wirausaha produktif berdaya saing tinggi.
Helvi menyampaikan peta jalan strategis ini saat menghadiri ajang Bursa Wirausaha Unggulan di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jawa Tengah, Rabu (7/10).
Forum ini memfasilitasi para perintis usaha muda agar berani mengeksekusi ide kreatif menjadi portofolio bisnis bernilai tinggi.
Baca Juga: Kementerian UMKM Dorong Startup Raih Investasi Global Lewat SWC 2026
Mengusung tema “Berani Memulai, Bertumbuh, dan Berdampak”, Kementerian UMKM memposisikan program ini sebagai jawaban konkret atas dinamika ketenagakerjaan urban masa kini.
Generasi muda kini memegang kendali untuk mengalihkan status dari pencari kerja menjadi pendiri usaha yang membuka lapangan kerja.
“Menumbuhkembangkan UMKM tidak terlepas dari bagaimana kita mencetak wirausaha baru, kemudian memberikan fasilitasi agar mereka bisa bertumbuh melalui pembiayaan, pemasaran, dan pendampingan, hingga akhirnya memberikan dampak bagi masyarakat dan perekonomian daerah,” ujar Helvi.
Helvi menegaskan bahwa pasar modern menuntut efisiensi operasional dan adopsi digital agar produk lokal mampu menembus rantai pasok global.
Baca Juga: Kementerian UMKM & BEI Pacu Usaha Menengah Melantai di Bursa Saham
Pelaku usaha masa kini wajib memadukan keahlian manajerial dengan teknologi pintar guna memaksimalkan valuasi produk.
“Kalau kita ingin UMKM naik kelas, tentu membutuhkan sentuhan teknologi. Kampus adalah dapurnya teknologi dan inovasi, sementara pemerintah daerah memahami potensi serta kekayaan daerahnya. Tiga kekuatan inilah yang harus kita satukan,” kata Wamen Helvi.
Jawa Tengah sendiri menyimpan aset demografis yang sangat bernilai bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Ratusan ribu mahasiswa terdidik setiap tahun menyuplai talenta segar yang siap menggerakkan roda inovasi industri kreatif.
Baca Juga: Kementerian UMKM Perkuat Ekosistem Investasi dan Wirausaha di Sulsel
“Jangan sampai surplus talenta hebat ini hanya menjadi pencari kerja. Kita harus mendorong mereka mengambil peran sebagai wirausaha produktif sehingga dapat menciptakan rantai ekonomi baru,” ujarnya.
Pemerintah memperkokoh fondasi ini melalui Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional sebagai payung hukum kolaborasi multi-stakeholder.
Langkah ini mempercepat target nasional dalam mencapai rasio kewirausahaan 3,6 persen pada 2029 dan 8 persen pada 2045.
Akselerasi Inkubator Bisnis Pacu Pertumbuhan Start-up Lokal
Baca Juga: Kementerian UMKM Suntik Modal dan Akselerasi Bisnis di Aceh
Kehadiran inkubator bisnis memberikan kepastian bagi calon wirausaha urban dalam memitigasi risiko kegagalan di fase awal rintisan.
Sebanyak 757 lembaga inkubator di seluruh Indonesia kini berperan aktif menyalurkan bimbingan teknis, memperluas jejaring investor, dan mematangkan model bisnis.
“Ekosistem ini tidak bisa dibangun pemerintah sendirian. Perguruan tinggi harus menghubungkan riset dengan kebutuhan pasar, lembaga pembiayaan menyediakan skema sesuai kebutuhan usaha, dunia usaha membuka rantai pasok dan kemitraan, sementara inkubator memastikan wirausaha terus didampingi,” tegas Wamen Helvi.
Penyaluran KUR Sektor Produksi Perkuat Portofolio Usaha Daerah
Baca Juga: Rahasia UMKM Lokal Tembus Pasar Global: Sentuhan Budaya dan Cuan Urban
Dari perspektif permodalan, perbankan nasional terus mengguyur likuiditas segar untuk memperkuat modal kerja sektor riil.
Hingga Oktober 2026, realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) nasional menembus Rp243 triliun kepada 3,77 juta pelaku UMKM, dengan alokasi dominan 66 persen atau Rp159 triliun mengalir langsung ke sektor produksi.
Provinsi Jawa Tengah mencatatkan serapan KUR sebesar Rp42,8 triliun untuk 760 ribu debitur, di mana sektor produksi menyerap Rp25,5 triliun.
Penyaluran ini memberikan dorongan nyata bagi perluasan skala usaha dan penciptaan multiplier effect di pasar lokal.
Baca Juga: Bursa Wirausaha Unggulan Sumut: Akselerasi Investasi dan UMKM Naik Kelas
“Kenapa kita dorong sektor produksi? Karena di sektor inilah penciptaan lapangan kerja paling besar. Ketika UMKM tumbuh di sektor produksi, dampaknya bukan hanya kepada UMKM-nya, tetapi juga kepada masyarakat dan perekonomian daerah,” ungkap Helvi.
Sinergi permodalan dan bimbingan teknis ini memastikan wirausaha lokal mampu naik kelas dan melipatgandakan margin profitabilitas di pasar terbuka. Helvi memproyeksikan momentum ini dapat melahirkan konglomerasi baru berbasis ekonomi kerakyatan.
“Kalau pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga pembiayaan bergerak bersama, kita yakin UMKM akan semakin tangguh, naik kelas, dan memberikan dampak yang lebih besar bagi perekonomian daerah,” kata Wamen UMKM.
Sinergi Kampus dan Investor Buka Jalur Pasar Rintisan Inovatif
Baca Juga: Peluang Cuan Wirausaha Muda: Menteri UMKM Dorong Mahasiswa Bangun Bisnis
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memandang institusi pendidikan tinggi sebagai katalisator utama modernisasi model bisnis kerakyatan.
Mahasiswa menyuntikkan terobosan digital yang membantu pelaku usaha memangkas biaya pemasaran dan menjangkau basis konsumen baru.
“Berbagai ide kreatif yang lahir dari kampus harus bisa masuk dan memberikan manfaat bagi UMKM, termasuk dalam menjawab persoalan akses modal dan pemasaran,” ujar Ahmad Luthfi.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah turut memperluas ruang pamer dan menjamin ketersediaan kredit berbunga kompetitif bagi pelaku bisnis pemula.
Baca Juga: Perkuat UMKM, Bank Jakarta Salurkan Pembiayaan Pasar Senilai Rp326 Miliar
Kebijakan ini menurunkan beban ekspansi operasional sehingga pelaku usaha bisa mengalokasikan modal untuk riset produk.
Rektor Undip Suharnomo mengonfirmasi kesiapan kampusnya sebagai pusat kurasi dan inkubasi wirausaha modern di Jawa Tengah. Undip mempertemukan hasil riset akademik dengan kebutuhan riil pelaku usaha dan lembaga sertifikasi.
“Kami berterima kasih kepada Kementerian UMKM karena dalam kegiatan ini para UMKM tidak hanya mendapatkan pembinaan, tetapi juga dipertemukan dengan investor, Himbara, BPOM, Barantin, dan berbagai pihak yang dapat membantu menjawab kebutuhan mereka,” ujar Suharnomo.
Inisiatif terpadu ini menghapus jurang pemisah antara inovasi teknologi laboratorium kampus dan eksekusi komersial di dunia industri.
Baca Juga: Peluang Investasi UMKM Sumatera Bangkit Buka Akses Pasar Digital Modern
Melalui ekosistem kolaboratif ini, produk karya anak bangsa siap merebut ceruk pasar premium dan menjadi instrumen investasi yang menjanjikan.
“Kampus biasanya punya teknologi, tetapi kadang kita tidak tahu teknologi itu harus dibawa ke mana dan bertemu dengan siapa. Melalui kegiatan ini, Kementerian UMKM mempertemukan kami dengan kebutuhan UMKM sehingga mudah-mudahan menjadi berkah untuk mendorong UMKM naik kelas,” kata Suharnomo.




