Perusahaan saat ini mempertahankan posisi overweight pada emas sebagai instrumen aset paling defensif.
Lonjakan permintaan emas global mencapai 74 persen pada kuartal awal 2026, sementara permintaan domestik naik 47 persen.
Baca juga: Kuasai 84 Persen Pasar Syariah, Menteri PKP Apresiasi Kinerja KPR Subsidi BSN
Djoko Soelistyo menjelaskan, tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi pasar global akibat tingginya ketidakpastian, penyesuaian suku bunga, dan persaingan yang semakin ketat.
Investor berorientasi jangka panjang masih memanfaatkan peluang strategis di tengah tingginya volatilitas pasar sepanjang paruh kedua 2026.
“Dalam kondisi pasar yang kompleks ini, CIO Office DBS mengedepankan pendekatan conviction-led yang berfokus pada strategi diversifikasi investasi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti,” paparnya.
Integrasi Teknologi dan Peluang Global
Bank DBS Indonesia mengkombinasikan wawasan pakar global dengan kecanggihan kecerdasan buatan (AI) untuk menghadirkan strategi investasi personal.
Nasabah dapat mengakses rekomendasi investasi secara real-time melalui aplikasi DBS digibank selama 24 jam.
Baca juga: Bank Maspion Peroleh Pinjaman Rp5 Triliun dari Kasikornbank untuk Perkuat Likuiditas
Jaringan luas DBS Group di Singapura, Hong Kong, hingga India membuat perspektif investasi pakar DBS sangat relevan dengan tren pasar Asia.
DBS Treasures juga menghadirkan program eksklusif untuk generasi penerus nasabah melalui DBS NextGen Excursion.
Inisiatif ini membantu nasabah dalam menavigasi dinamika ekonomi sekaligus menjaga keberlangsungan pertumbuhan aset lintas generasi. (*)




