“Kami menyambut baik kesempatan untuk menghadirkan solusi penanganan gagal jantung yang lebih maju di Indonesia,” ujarnya.
Kolaborasi ini diharapkan dapat membantu menurunkan angka kematian akibat gagal jantung yang masih tinggi.
“Sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi inovatif tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri,” imbuhnya.
RSCM menjelaskan, berdasarkan Global Burden of Disease (GBD) 2019, Indonesia memiliki prevalensi gagal jantung sekitar 900–1.000 kasus per 100.000 penduduk.
Selain itu, Indonesia juga tercatat memiliki angka kematian akibat gagal jantung tertinggi di Asia, yakni sekitar 34,1 persen.
Sehingga, dibutuhkan pengembangan terapi yang lebih komprehensif bagi pasien stadium lanjut.
Baca Juga: OJK Dorong Digitalisasi Keuangan UMKM Indonesia Timur
LVAD merupakan alat bantu pompa jantung yang dipasang melalui prosedur operasi untuk membantu ventrikel kiri memompa darah ke seluruh tubuh.
Terbukti Mampu Tingkatkan Kualitas Hidup
Teknologi tersebut telah terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup sekaligus memperpanjang harapan hidup pasien gagal jantung stadium lanjut.
Pada tahap awal implementasi, RSCM akan melakukan pemasangan LVAD pertama kepada seorang pasien perempuan berusia 45 tahun.
LVAD tersebut memiliki fungsi pompa jantung hanya 14 persen.
Pasien tersebut diketahui mengalami sesak napas saat beraktivitas ringan dan telah beberapa kali menjalani perawatan akibat gagal jantung.
Pendiri sekaligus Chairman Borderless Healthcare Group dan HeartSPAN.ai, Dr. Wei Siang Yu, mengatakan kolaborasi ini menggabungkan teknologi medis.




