Baca Juga: PHE Terapkan Strategi Pertumbuhan Ganda Perkuat Ketahanan Energi di Tengah Konflik Global
Secara teknis, cekungan Asri Basin memegang keunggulan geografis yang sangat langka. Terletak sekitar 180 kilometer dari Jakarta, kawasan ini memiliki luas wilayah 848 kilometer persegi di kedalaman laut dangkal 30–35 meter.
Formasi geologinya berupa saline aquifer dengan lapisan reservoir yang tebal dan berpori, serta diproteksi oleh lapisan penutup (caprock) yang sangat kokoh untuk mengunci gas karbon di bawah tanah dalam jangka panjang.
Dengan modal geologi tersebut, Asri Basin diestimasikan mampu mengubur hingga 2,9 gigaton CO2 dengan kemampuan injeksi mencapai 30 juta ton per tahun (MTPA).
Skala masif ini otomatis menempatkan Asri Basin sebagai salah satu bungker penyimpanan karbon bawah tanah terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Baca Juga: PHE Unjuk Gigi di OTC Asia 2026, Perkuat Eksistensi Hulu Migas Indonesia di Kancah Global
Incar Pendanaan Global dan Terapkan Sistem Anti-Suap
Proyek ini diproyeksikan memiliki tingkat keekonomian yang tinggi karena posisinya nempel dengan kawasan industri manufaktur utama nasional.
Terlebih, operasional proyek akan memanfaatkan infrastruktur pelabuhan serta jaringan logistik terintegrasi milik Pertamina Group untuk memangkas modal awal.
Guna mendanai proyek senilai miliaran dolar ini, PHE dan ExxonMobil tengah merancang skema pembiayaan internasional (project financing) serta membuka peluang kongsi joint venture dengan investor global.
Langkah penyerapan modal asing ini berjalan selaras dengan target pemerintah untuk memotong emisi gas rumah kaca nasional sebesar $29\%$ pada 2030, menuju *Net Zero Emission* (NZE) tahun 2060.






