Peningkatan DPK ini menunjukkan nasabah semakin banyak dan percaya untuk memanfaatkan produk dan layanan Bank Jago sebagai bagian dari pengelolaan keuangan mereka.
Baca Juga: Mandiri Sahabatku 2026, Misi Setrum Bank Mandiri di Negeri Beton
“Kini Aplikasi Jago bukan sekadar tempat untuk menabung dan bertransaksi, tetapi sudah menjadi tempat untuk menumbuhkan keuangan nasabah secara lebih menyeluruh,” ujar Arief Harris dalam keterangannya, Sabtu, 25 April 2026.
Kualitas Aset Terjaga Ketat
Meski ekspansif, Bank Jago menunjukkan kedisiplinan dalam manajemen risiko. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross yang berada di level 0,8 persen.
Angka ini jauh di bawah rata-rata industri perbankan nasional, yang menunjukkan kualitas aset perseroan sangat sehat.
Kekuatan fundamental Bank Jago juga terlihat dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang berada di level 29,9 persen.
Baca Juga: Duet Bank BTN-Triniti Land Perluas Opsi Pembayaran Hunian
Posisi modal yang tebal ini memberikan ruang gerak luas bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi bisnis di sisa tahun ini. Sementara itu, rasio kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) berada pada level optimal 95 persen.
“Pencapaian ini menegaskan komitmen kami sebagai bank berbasis teknologi yang terus mengedepankan inovasi dan kolaborasi sekaligus fokus pada pengelolaan fundamental kinerja dan manajemen risiko yang kuat,” tutup Arief. (*)






