URBANCITY.CO.ID – Masyarakat urban modern kini menuntut pasokan pangan bernutrisi tinggi yang diproduksi lewat praktik ramah lingkungan.
Keberhasilan Kabupaten Banyuwangi memadukan padi biofortifikasi dengan metode pertanian rendah emisi (low carbon farming) langsung memikat minat Pemerintah Negeri Selangor, Malaysia.
Pemerintah Selangor mendatangi Banyuwangi guna membedah teknologi budidaya presisi tersebut sekaligus menjajaki kemitraan investasi lintas negara di sektor agritech dan rantai pasok berkelanjutan.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menyambut langsung delegasi Negeri Jiran yang dipimpin Exco Pertanian Negeri Selangor, Datuk Izham bin Hashim, di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan.
Baca Juga:Â Kolaborasi OJK dan Banyuwangi Batik Festival Perkuat Peluang Investasi UMKM
Izham menilai inovasi Banyuwangi membuka peluang besar dalam melipatgandakan hasil panen tanpa merusak ekosistem lahan.
“Kami ke Banyuwangi untuk melihat sektor pertanian, terutama pembangunan dan pengelolaan sawah padi di sini. Kami mendapat informasi di Banyuwangi bisa dilakukan penanaman padi hingga tiga sampai empat kali dalam setahun. Ini sangat menarik untuk kami pelajari,” ujar Izham dalam keterangannya, Sabtu (7/11/2026).
“Selangor memiliki areal persawahan sekitar 18.000 hektare. Kami ingin melihat teknik dan metode apa yang bisa dipelajari untuk membantu pengembangan persawahan di Selangor, dan bekerjasama dengan Banyuwangi,” tambahnya.
Teknologi Budidaya Presisi Dukung Gaya Hidup Sehat
Baca Juga:Â Segel SPBU Genteng Wetan Banyuwangi, Polisi Dalami Dugaan Penyaluran BBM Ilegal Truk Tangki
Rombongan Selangor mempelajari ekosistem pertanian rendah emisi Banyuwangi secara menyeluruh selama agenda kunjungan kerja.
Mereka meneliti efisiensi tata kelola lahan sawah, optimasi formulasi pupuk, seleksi benih unggul, hingga manajemen budidaya harian petani lokal.
Praktik cerdas ini menghasilkan komoditas beras berdaya saing premium yang menjawab kebutuhan gaya hidup sehat konsumen perkotaan.
Beras biofortifikasi kaya nutrisi ini lahir lewat kolaborasi strategis bersama Pandawa Agri Indonesia (PAI), entitas agritech lokal Banyuwangi.
Baca Juga:Â Ribuan Orang Ramaikan Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Banyuwangi, Rayakan Kopi dan Persaudaraan
Inovasi PAI memadukan penurunan jejak karbon dengan peningkatan nilai gizi pangan untuk membantu program pencegahan stunting.
PAI menerapkan pendekatan Teknologi Pendampingan PAI (PPAI) yang menyentuh 10 tahapan krusial budidaya padi secara disiplin.
Sistem ini mengerek volume panen, menekan biaya sarana produksi, serta melindungi ekosistem sawah dari risiko perubahan iklim ekstrem.
Pertemuan bilateral ini turut menghadirkan CEO Pandawa Agri Indonesia Kukuh Roxa Putra dan perwakilan National Farmers Organization (NAFAS) Malaysia.
Baca Juga:Â Pembebasan Lahan Tol Probolinggo-Banyuwangi Hampir 100 Persen, Konstruksi Selesai Sesuai Rencana
Potensi Diversifikasi Portofolio dan Kerja Sama Regional
Kerja sama agritech ini membuka jalan lebar bagi ekspansi ekonomi kedua kawasan di sektor-sektor bernilai tambah tinggi.
Datuk Izham melirik potensi sinergi lintas industri yang relevan dengan tren wisata ramah lingkungan dan perdagangan modern.
“Kami melihat banyak sekali potensi yang bisa dieksplorasi di Banyuwangi. Awalnya fokus kami pada pertanian, tetapi setelah melihat berbagai hal di sini, ternyata ada banyak bidang lain yang bisa dikembangkan bersama,” katanya.
Baca Juga:Â Per April 2024, Pembangunan Tol Probolinggo-Banyuwangi I Capai 35,84 Persen
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyambut positif penjajakan komersial dan transfer teknologi regional tersebut.
“Mari kita saling belajar, teknologi pertanian apa yang sekiranya bisa kita terapkan di masing-masing negara. Kami juga berharap pertemuan ini bisa memberikan insight baru yang mendukung pengembangan Banyuwangi, utamanya di sektor pertanian,” ucap Mujiono.




