URBANCITY.CO.ID – Tren investasi hijau kini memikat masyarakat urban yang makin selektif menyalurkan modal ke portofolio berkelanjutan.
Penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) mendorong para pemodal melirik potensi restorasi alam sebagai aset bernilai tinggi.
Nusa Tenggara Barat (NTB) menangkap momentum ini dengan menyodorkan kekayaan hutan dan ekosistem mangrove sebagai motor penggerak ekonomi baru.
Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Wilayah NTB, Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana, memproyeksikan daerahnya mampu memikat aliran modal besar melalui monetisasi proyek lingkungan.
Baca Juga:Â Peluang Karier dan Bisnis Hijau: Industrial Festival 2026 Bidik Talenta Urban Muda
Sektor ini mengintegrasikan perlindungan alam, energi surya, dan ekowisata ke dalam instrumen keuangan modern.
“Daerah yang siap dengan inventarisasi emisi dan memiliki proyek berbasis nilai ekonomi karbon yang matang jauh lebih menarik bagi penanaman modal di bidang energi terbarukan, ekowisata, ecocity, dan industri hijau,” kata Sandiana, dilansir Antara, Minggu (8/11/2026).
Langkah strategis ini mengubah paradigma konservasi konvensional menjadi aksi nyata yang mendatangkan keuntungan finansial terukur.
Proyek dekarbonisasi di daerah tidak hanya menekan emisi gas rumah kaca, tetapi juga memperkuat ketahanan fiskal kawasan secara berkelanjutan.
Baca Juga:Â Terapkan Bisnis Hijau, InJourney Hospitality Borong Penghargaan TOP CSR Awards 2026
Peluang Portofolio Hijau Lewat IDX CarbonÂ
Masyarakat perkotaan kian meminati perdagangan karbon sebagai diversifikasi investasi yang etis dan berdampak langsung pada bumi.
Mekanisme pasar ini menyalurkan insentif dana segar kepada para pengembang inisiatif ramah lingkungan.
“Dengan potensi karbon biru dari hutan-hutan mangrove yang ada di NTB, energi terbarukan melalui solar panel, potensi proyek hijau dari hutan yang tersebar di NTB memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi,” kata Sandiana.
Baca Juga:Â BNI Raih Asia Sustainability Reporting Awards 2024: Standar Global untuk Keunggulan Bisnis Hijau
Kawasan pesisir dan vegetasi rimbun kini menjelma menjadi sumber pendapatan baru tanpa harus mengorbankan kelestarian alam lewat eksploitasi fisik.
Skema modern ini mengonversi serapan karbon menjadi kredit emisi yang siap diperdagangkan secara resmi di bursa efek.
“Perdagangan karbon membantu membiayai program rehabilitasi lahan kritis dan pengawasan lingkungan hidup tanpa bergantung penuh pada APBD standar,” katanya.
Peran Agregator BUMD Mengakselerasi Pasar KarbonÂ
Baca Juga:Â Lima UNESCO Global Geopark RI Raih Green Card, Buka Peluang Investasi Hijau
BEI mendorong pemerintah daerah menggerakkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai agregator utama proyek lingkungan hidup.
Entitas bisnis daerah bertugas merangkul inisiatif komunitas lokal, pengelola kawasan wisata bahari, hingga pegiat energi surya ke dalam satu ekosistem terpadu.
BUMD menyusun sertifikasi resmi atas penurunan emisi dari sektor kehutanan, pengelolaan limbah perkotaan, dan ekosistem pesisir.
Penyatuan aset ini mempermudah entitas lokal memenuhi standar ketat verifikasi internasional sebelum melantai di bursa.
Baca Juga:Â 5 Geopark Indonesia Raih Green Card UNESCO, Bojonegoro Buka Peluang Investasi Hijau
“Di NTB, dapat didorong BUMD yang ada maupun yang baru sebagai agregator dan mengkonsolidasi potensi-potensi proyek karbon untuk kemudian didaftarkan di Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendapatkan SPE-GRK dan dijual di IDX Carbon,” pungkas Sandiana.
Akselerasi Net Zero Emission NTB Pacu Gaya Hidup BerkelanjutanÂ
Indonesia memegang komitmen kuat menurunkan emisi nasional sebesar 31,89 persen secara mandiri dan 43,20 persen lewat kolaborasi internasional hingga 2030 mendatang.
Target ambisius tersebut memicu transformasi gaya hidup masyarakat urban menuju pola konsumsi rendah emisi dan mobilitas ramah lingkungan.
Baca Juga:Â Investasi Hijau Minyak Jelantah Pertamina Dorong Cuan Rumah Tangga
Pemerintah Provinsi NTB bahkan menetapkan target net zero emission pada 2050, sepuluh tahun lebih cepat dari target nasional 2060.
Keberanian memajukan target ini menciptakan iklim investasi ecocity yang kondusif sekaligus memberi ruang luas bagi inovasi gaya hidup hijau di masa depan.




