Menurut Fahmy, Indonesia memang tidak menjadi pihak yang terlibat langsung dalam konflik tersebut. Namun, perang berkepanjangan tetap dapat memberikan efek berantai berupa kenaikan harga energi, meningkatnya biaya logistik, serta bertambahnya tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Inflasi Mengancam Daya Beli dan Prospek Investasi
Konflik yang berkepanjangan berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi dunia. Ketika harga energi terus meningkat, biaya produksi industri ikut naik sehingga harga pangan, transportasi, dan berbagai kebutuhan sehari-hari menjadi lebih mahal. Kondisi ini mengurangi daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan tekanan inflasi.
Sejumlah lembaga internasional juga memperingatkan bahwa harga minyak yang bertahan tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko resesi global. Negara-negara pengimpor energi diperkirakan menghadapi tekanan paling besar karena harus menanggung kenaikan biaya impor sekaligus perlambatan aktivitas ekonomi.
Baca Juga:Â Iran Walk Out dari Negosiasi, Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$81 per Barel
Dana Moneter Internasional (IMF) menilai ketidakpastian geopolitik masih akan membayangi pemulihan ekonomi dunia meskipun konflik mulai mereda. Risiko inflasi diperkirakan tetap tinggi sehingga bank sentral di berbagai negara kemungkinan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Indonesia Perlu Menjaga Stabilitas dan Peluang Investasi
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan beban subsidi energi dan biaya impor bahan bakar. Kondisi tersebut berpotensi menekan nilai tukar rupiah apabila permintaan dolar Amerika Serikat meningkat. Dampaknya juga dapat dirasakan masyarakat melalui kenaikan biaya transportasi dan harga sejumlah barang konsumsi.




