Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia Catat Rekor Tertinggi dalam 11 Bulan, Unggul di ASEAN
Usulan Insentif Baru Menghadapi Krisis
Kemenperin juga tengah menyiapkan amunisi baru berupa usulan insentif dan kebijakan perlindungan industri untuk menghadapi gejolak di Timur Tengah dan wilayah konflik lainnya. Rancangan ini merupakan penguatan dari kebijakan proteksi yang sudah ada sebelumnya.
“Bapak Menteri Perindustrian sedang menyiapkan usulan insentif baru dan kebijakan perlindungan industri dalam negeri dalam menghadapi dampak gejolak geopolitik. Diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri menghadapi tekanan global dan melindungi pekerjanya dengan baik,” imbuh Febri.
Resiliensi di Tengah Tren ASEAN
Meski terkontraksi, posisi Indonesia dinilai masih relatif lebih baik dibandingkan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara berkat topangan permintaan domestik.
Sebagai perbandingan, Filipina mencatatkan penurunan PMI yang lebih dalam hingga ke level 48,3. Sementara itu, Malaysia masih bertahan di level 51,6 dan Vietnam di kisaran 50,5.
Baca Juga: Industri Pengolahan Tetap Loyo, November PMI Manufaktur Kembali Terkontraksi
Optimisme pelaku usaha juga masih terpantau cukup tinggi. Berdasarkan Survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI), tingkat optimisme terhadap prospek produksi enam bulan ke depan berada di angka 70,1 persen.
“Posisi Indonesia yang berada pada kontraksi moderat menunjukkan bahwa sektor manufaktur nasional relatif resilien di tengah tekanan global. Namun, ini juga menjadi sinyal penting untuk memperkuat struktur industri dalam negeri agar lebih tahan terhadap gejolak eksternal,” tutup Febri.






