URBANCITY.CO.ID – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri makanan dan minuman nasional melalui transformasi teknologi pengemasan.
Salah satu langkah strategis yang kini tengah dipacu adalah pemanfaatan kemasan aseptik berbasis kertas (paperboard) sebagai solusi alternatif pengganti plastik konvensional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa penggunaan kemasan berbasis kertas saat ini sudah cukup kompetitif dengan porsi mencapai 28 persen dari total kebutuhan kemasan industri mamin.
Strategi ini diharapkan mampu memangkas biaya logistik karena produk aseptik tidak lagi bergantung pada rantai pendingin (cold chain).
Baca Juga: Kejar Tenggat 2026, Kemenperin Genjot Sertifikasi Halal IKM Kosmetik Nasional
“Kemasan kertas saat ini sudah banyak digunakan untuk produk seperti susu dan minuman. Kami berkomitmen untuk terus memacu pengembangan alternatif bahan baku kemasan melalui skema business matching antara produsen dan pengguna,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangan resminya, Jumat, 24 April 2026.
Efisiensi di Tengah Tantangan Logistik
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Merrijantij Punguan Pintaria, menambahkan bahwa meskipun harga satuan kemasan aseptik kertas berbeda dengan plastik, namun secara totalitas biaya produksi bisa lebih efisien.
Hal ini dikarenakan kemasan aseptik memungkinkan penyimpanan produk dalam suhu ruang tanpa bahan pengawet.
“Perlu dipertimbangkan bahwa memang harga kemasan aseptik dari kertas tidak apple to apple dengan kemasan berbahan plastik, tetapi ketika dikonversi secara menyeluruh, hasilnya mungkin sama dikarenakan kemasan aseptik dari kertas tidak membutuhkan rantai pendingin dan kulkas untuk penyimpanan,” kata Merrijantij.




