URBANCITY.CO.ID – Sektor industri manufaktur Indonesia menunjukkan taji di tengah ketidakpastian pasar internasional.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat tren positif pembangunan fasilitas produksi baru sepanjang Triwulan I 2026, yang menegaskan posisi manufaktur sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, mengungkapkan bahwa struktur industri nasional kian kokoh dan resilien menghadapi dinamika geopolitik global.
Hal ini terlihat dari performa industri pengolahan nonmigas pada 2025 yang tumbuh 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen.
Baca Juga: PMI Manufaktur Maret 2026 Bertahan di Level 50,1, Menperin: Industri Kita Sangat Resilien
Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, investasi semakin tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional.
“Ini bukti bahwa struktur industri Indonesia semakin kokoh,” ujar Febri di Jakarta, Jumat, 24 April 2026.
Rekor Investasi dan Serapan Tenaga Kerja
Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) per 23 April 2026, tercatat sebanyak 633 perusahaan baru melaporkan pembangunan fasilitas produksi pada awal tahun ini.
Total rencana investasi dari pembangunan tersebut mencapai angka fantastis, yakni Rp418,62 triliun, dengan potensi penyerapan tenaga kerja sebanyak 219.684 orang.
Subsektor industri logam dasar menjadi jawara dari sisi nilai modal. Sebanyak 24 perusahaan di sektor ini menyuntikkan dana hingga Rp218,04 triliun.




