Kelangkaan Tinta dan Ancaman Manufaktur
Nyatanya, rembesan konflik di Timur Tengah tidak hanya mencekik dompet warga, melainkan sudah mulai menggerogoti urat nadi industri manufaktur Jepang. Salah satu potret unik sekaligus mengkhawatirkan terlihat pada Mei 2026, saat raksasa makanan ringan Calbee terpaksa meluncurkan kemasan berwarna abu-abu hambar untuk 14 lini produk keripik kentangnya—menggantikan desain oranye-kuning yang ikonik.
Media lokal melaporkan, perubahan drastis ini terpaksa dilakukan akibat kelangkaan bahan baku tinta yang pasokannya terputus dari jalur perdagangan global di Timur Tengah.
Menyikapi situasi yang kian tak menentu, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan fokus jangka pendek kabinetnya adalah mengendalikan volatilitas harga tiga komoditas utama: bensin, listrik, dan gas. Takaichi mengklaim pasokan alternatif nafta produk turunan minyak vital bagi industri kini telah pulih hingga 80 persen dari level normal.
Kendati demikian, situasi makro Jepang tetap dalam status waspada. Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) bahkan telah mengambil langkah pahit dengan mengerek proyeksi inflasi seraya memangkas target pertumbuhan ekonomi nasional akibat efek domino krisis Timur Tengah ini.




