URBANCITY.CO.ID – Tradisi membakar jerami sisa panen yang memicu polusi udara di Desa Pengabuan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, kini resmi berakhir.
Melalui inisiasi hijau, para petani lokal sukses mentransformasi limbah pertanian seberat empat ton per hektare tersebut menjadi komoditas briket dan wadah ramah lingkungan bernilai ekonomis tinggi.
Lompatan besar ini dimotori oleh program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA) yang digagas oleh Pertamina EP (PEP) Adera Field, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4.
Sejak bergulir pada 2025, program ini memberikan intervensi teknologi berupa mesin pengolah serta pelatihan manajemen bisnis hulu-hilir bagi para petani.
Baca Juga: Naik Kelas, Menkop Ferry Ingin Petani Tebu Ikut Nikmati Saham Industri Gula
“Jerami yang dulu cuma jadi sampah ternyata bisa bawa berkah. Ngebulnya enggak lagi di sawah, alhamdullilah ngebulnya di dapur soalnya pemasukan nambah,” ujar Sarbeni, anggota Kelompok Tani Barokah, Rabu (20/5/2026).
Pendapatan Petani Melejit di Atas UMK PALI
Sebelum program PERMATA masuk, keterbatasan wawasan membuat Sarbeni dan puluhan petani lain terbiasa membakar limbah pascaproduksi demi mempercepat pembersihan lahan.
Akibatnya, pendapatan bulanan mereka mandek di angka Rp1,7 juta per bulan—jauh di bawah standar Upah Minimum Kabupaten (UMK) PALI.
Kini, setelah menguasai taktik pengemasan, pembukuan sederhana, hingga strategi pemasaran digital, sebanyak 60 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Barokah, KWT Selaras Alam, dan Taruna Tani berhasil mencetak kenaikan pendapatan rata-rata menjadi Rp3,9 juta per orang per bulan.




