Tujuannya jelas, guna melindungi aset dari volatilitas pasar global.
“Antara Lapangan Banteng dan Kebon Sirih harus harmonis antara moneter dengan fiskalnya,” ujar Telisa Falianty.
“Jangan sampai fiskal terlalu dominan dibandingkan moneter atau sebaliknya. Jika fiskal terlalu dominan, itu akan memberikan potensi krisis dan mengurangi prudentiality”.
Peran Strategis Perbankan Syariah
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mengarahkan fokus ekspansinya pada sektor produktif, pembiayaan perumahan, serta dukungan nyata terhadap program prioritas pemerintah melalui tata kelola risiko yang terukur.
Baca juga: Sinergi ITL Trisakti & BP2TL: Akselerasi SDM Maritim & Logistik Masa Depan
Wakil Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta, memaparkan bahwa perseroan berkomitmen menjaga likuiditas yang sehat sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional di tengah tantangan zaman.
Para pelaku usaha dapat memanfaatkan momentum transformasi perbankan syariah ini untuk memperluas akses permodalan yang aman dan berkelanjutan.
Menurut Bob, transformasi pembiayaan syariah perlu diarahkan dari sekadar mengejar ekspansi untuk menumbuhkan pertumbuhan yang lebih efektif.
Tetapi juga harus berkualitas, profitable, dan memberikan dampak yang nyata terhadap perekonomian.
“Kami menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas pembiayaan, likuiditas, inklusi keuangan, dan juga agenda pembangunan nasional,” ucap Bob Tyasika Ananta. (*)




