<strong>URBANCITY.CO.ID</strong> - Akses pasar. Indonesia kini membidik pasar Eurasia sebagai destinasi ekspansi manufaktur nasional yang menjanjikan. Langkah ini terealisasi melalui kesepakatan percepatan Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama industri antara Indonesia dan Azerbaijan. Kesepakatan tersebut terjalin pasca-event INNOPROM 2026. Kolaborasi strategis ini membuka jalan lebar bagi pelaku bisnis lokal untuk menembus pasar internasional sekaligus menarik modal asing ke tanah air. <strong>Menjadikan Azerbaijan Gerbang Utama Bisnis di Kawasan Eurasia</strong> <strong>Baca Juga: <a href="https://urbancity.co.id/tembus-pasar-eurasia-indonesia-borong-7-kerja-sama-industri-di-innoprom-2026-demi-ekonomi-global/">Tembus Pasar Eurasia: Indonesia Borong 7 Kerja Sama Industri di INNOPROM 2026 demi Ekonomi Global</a></strong> Azerbaijan memegang peranan krusial sebagai hub logistik yang menghubungkan Asia dan Eropa. Jalur Trans-Caspian International Transport Route dan International North-South Transport Corridor yang mereka miliki menawarkan akses distribusi efisien. Kedua jalur iu menuju Kaukasus, Asia Tengah, hingga negara-negara CIS. Kemenperin memanfaatkan momentum ini untuk memastikan produk manufaktur Indonesia memiliki daya saing lebih kuat di pasar global. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, INNOPROM 2026 menjadi momentum penting bagi kementerian. "Terutama untuk memperkuat kemitraan dengan negara-negara strategis, termasuk dengan Azerbaijan," ujarnya. "Kami harap pembahasan MoU ini mampu membuka peluang investasi, memacu alih teknologi, dan menciptakan kerja sama yang saling bermanfaat bagi kedua negara," imbuhnya. <h5><strong>Mengakselerasi Pertumbuhan Investasi dan Alih Teknologi Modern</strong></h5> <strong>Baca Juga: <a href="https://urbancity.co.id/wamendag-roro-esti-dorong-produk-umkm-surabaya-masuk-ritel-modern-dan-pasar-internasional/">Wamendag Roro Esti Dorong Produk UMKM Surabaya Masuk Ritel Modern dan Pasar Internasional</a></strong> Pemerintah Indonesia menawarkan skema kerja sama komprehensif dalam rancangan MoU tersebut. Adapun bidang-bidang yang menjadi fokus utama meliputi pertukaran informasi regulasi, pengembangan rantai pasok global, hingga akselerasi alih teknologi. Skema ini memberikan keuntungan besar bagi pelaku industri lokal dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan efisiensi produksi berbasis standar internasional. Duta Besar RI untuk Rusia dan Belarus, Jose Antonio Morato Tavares, optimis komunikasi intensif kedua negara menjadi fondasi kuat realisasi proyek ini. Pihaknya mendorong segera dilakukannya finalisasi agar para pelaku industri segera merasakan dampak positif dari kemitraan yang terstruktur dan berkelanjutan. <strong>Baca Juga: <a href="https://urbancity.co.id/indonesia-perkuat-kerja-sama-industri-dengan-rusia-melalui-partisipasi-di-innoprom-2026/">Indonesia Perkuat Kerja Sama Industri dengan Rusia melalui Partisipasi di INNOPROM 2026</a></strong> <h5><strong>Memperkuat Posisi Indonesia dalam Rantai Pasok Industri Global</strong></h5> Data perdagangan mencatat nilai transaksi antara Indonesia dan Azerbaijan mencapai USD 155,2 juta pada tahun 2025. Produk unggulan seperti minyak sawit, sabun, dan makanan olahan terus membuktikan daya tarik produk nasional di pasar Azerbaijan. Finalisasi MoU ini akan menjadi akselerator bagi sektor manufaktur Indonesia untuk memperluas dominasi produknya di kawasan yang sangat prospektif ini. Keikutsertaan Indonesia sebagai Partner Country di ajang INNOPROM 2026 yang melibatkan lebih dari 900 peserta dari 50 negara semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain utama di industri manufaktur dunia. Langkah ini secara langsung mendukung visi pemerintah dalam memperluas jejaring bisnis global dan menciptakan peluang networking kelas atas bagi pelaku industri di Indonesia. (*)