Daya tersambung pelanggan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor ketenagalistrikan ini juga terkerek 5,82 persen menjadi 192.621 Megavolt Ampere (MVA).
Baca Juga: Gelegar PLN Mobile 2026 Dibuka, Berhadiah Mobil Listrik hingga Voucher Belanja
Pertumbuhan paling masif terjadi di sektor penyambungan pelanggan baru yang melonjak 3,3 juta jaringan, sehingga total basis konsumen PLN kini menembus 96,2 juta pelanggan.
Ekspansi ini menyumbang pundi-pundi pendapatan non-konsumsi sebesar Rp2,24 triliun (meroket 28,4 persen).
Suntikan pertumbuhan ini tidak hanya berasal dari segmen komersial reguler, melainkan disokong oleh program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) dari Kementerian ESDM yang menyisir kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
“Pemerintah bersama PLN terus memastikan masyarakat dapat memperoleh akses listrik, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang tertinggal dalam kegelapan,” tambah Darmawan.
Cetak Laba Bersih Rp7,26 Triliun di Tengah Tekanan Kurs
Kendati berhasil mempertahankan efisiensi bisnis hulu ke hilir, PLN tidak menampik adanya tekanan makroekonomi yang cukup berat dari volatilitas pasar keuangan global sepanjang 2025.
Baca Juga: Cegah Tagihan Bengkak, Begini Cara Pakai Fitur Swacam di Aplikasi PLN Mobile
Dinamika pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing memicu pembengkakan pos beban non-operasional korporasi.
Namun, PLN terbukti tangguh memitigasi risiko finansial tersebut dengan tetap mengamankan laba bersih konsolidasi di zona positif.
“Di tengah tekanan kondisi global, PLN tetap mampu membukukan laba bersih sebesar Rp7,26 triliun. Capaian tersebut diraih meskipun Perseroan menghadapi tekanan rugi selisih kurs sebesar Rp12,46 triliun akibat volatilitas nilai tukar global,” pungkas Darmawan. (*)




