Drone penyemprot hama, combine harvester, hingga rice transplanter kini menjadi standar baru dalam aktivitas pertanian modern di berbagai daerah.
Baca juga:Â PKS Sei Tapung Sulap Limbah Sawit Jadi Pupuk Organik dan Energi Biogas
Akses kredit bunga ringan yang pemerintah sediakan juga semakin memudahkan petani untuk beralih ke peralatan mekanis.
Hal ini secara otomatis meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi panen mereka.
Keberhasilan integrasi teknologi ini sejalan dengan tren gaya hidup petani modern yang mulai meninggalkan cara tradisional menuju pertanian presisi.
Peningkatan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram turut menjamin marjin keuntungan yang stabil bagi para petani saat menjual hasil panennya.
Kebijakan ini menciptakan ekosistem bisnis yang menarik, di mana profesi petani tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan kelas bawah, melainkan sebuah usaha dengan prospek keuntungan yang terukur.
Di era kepemimpinan Presiden Prabowo, bentuk keberpihakan pemerintah kepada petani telah ditunjukkan lewat berbagai kebijakan.
Baca juga:Â Lawan Krisis Global, Presiden Prabowo Pangkas Harga Pupuk 20 Persen dan Hapus 145 Regulasi
“Untuk menjamin pupuk subsidi selalu tersedia dalam jumlah cukup dan tepat waktu, pemerintah menambah kuantum pupuk subsidi hingga dua kali lipat menjadi 9,5 juta ton dan memangkas rantai birokrasi,” kata Qodari.
Capaian Tertinggi Ekonomi Petani Modern
Data Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 127,73 pada Mei 2026, angka tertinggi dalam 34 tahun terakhir.




