URBANCITY.CO.ID – Pemerintah bersiap memperketat ikat pinggang guna mengamankan ruang fiskal dari tekanan ketidakpastian global.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengakui, eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia berdampak langsung pada beban subsidi pangan dan energi nasional.
Sebagai langkah mitigasi, kementerian keuangan menyiapkan skenario efisiensi belanja negara. Menariknya, optimalisasi ini juga menyasar program unggulan pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), agar pelaksanaannya lebih tepat sasaran tanpa mengganggu stabilitas makroekonomi.
“Kedua, kami memastikan target penerimaan negara tercapai. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, penerimaan pajak tumbuh sebesar 20 persen,” ujar Juda Agung saat memberikan keynote speech di acara Fitch on Indonesia, Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Baca Juga: Wamenkeu Juda Agung: Fundamental Ekonomi Kuat, Targetkan Pertumbuhan 8 Persen di APBN 2026
Menurutnya, berbagai upaya dilakukan untuk mengamankan pendapatan, termasuk digitalisasi melalui sistem inti perpajakan, optimalisasi penerimaan dari sumber daya alam, serta pengelolaan dana bebas pajak yang lebih baik.
Resiliensi di Tengah Gejolak
Meski volatilitas pasar energi membayangi, Juda mengklaim fundamental ekonomi Indonesia masih berada di jalur positif.
Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,39 persen pada kuartal terakhir, didorong oleh koordinasi yang solid antara kebijakan fiskal dan moneter.
Juda membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara lain di peringkat kredit BBB yang cenderung lebih rentan. Menurutnya, inflasi yang rendah dan posisi fiskal yang hati-hati menempatkan Indonesia pada posisi makroekonomi yang lebih seimbang.




