Baca Juga: Wamenkeu II: Program Makan Siang Gratis Jalan dan IKN Lanjut, Tak Ada yang Dinomorduakan
Dibandingkan dengan negara sekelasnya, Indonesia tumbuh lebih kuat sambil tetap menjaga stabilitas makroekonomi.
“Inflasi rendah, posisi fiskal yang hati-hati, serta faktor eksternal yang solid menempatkan Indonesia pada posisi makroekonomi yang relatif lebih baik dan seimbang di antara negara dengan peringkat BBB,” tandasnya.
Reformasi Struktural Jangka Panjang
Di tengah tekanan pasar, pemerintah tetap berkomitmen menjaga kepercayaan investor melalui disiplin kebijakan.
Fokus belanja ke depan akan diarahkan pada sektor produktif seperti hilirisasi sumber daya alam, kesehatan, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan.
Baca Juga: Like It – Mengajak Peserta Pramuka untuk Mandiri secara Finansial – Menuju Indonesia Emas
Juda memastikan bahwa kebijakan fiskal akan bersifat adaptif terhadap dinamika global namun tetap konsisten pada jalur reformasi.
Peringkat kredit Indonesia yang masih bertahan di level investment grade dianggap sebagai buah dari konsistensi kebijakan selama ini.
Kebijakan tidak hanya merespons tantangan, tetapi juga menyelesaikannya dengan fokus pada stabilitas, investasi strategis, dan reformasi.
“Indonesia akan terus tumbuh. Kita akan membangun masa depan yang sejahtera. Kita akan menghadapi masa depan dengan penuh keyakinan, berkomitmen pada stabilitas, keberlanjutan, dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Juda. (*)






