URBANCITY.CO.ID – Ketegangan di jalur nadi perdagangan minyak dunia kembali memuncak. Militer Iran memutuskan untuk menutup kembali Selat Hormuz pada Sabtu, 18 April 2026.
Langkah ini diambil hanya berselang beberapa jam setelah Teheran sempat membuka jalur tersebut pasca-gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Keputusan penutupan ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi. Sebelumnya, pada Jumat lalu, belasan kapal komersial sempat melintasi selat tersebut dengan harapan normalisasi jalur maritim.
Namun, optimisme itu sirna setelah Teheran menuding Washington tetap melanjutkan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju pelabuhan Iran.
Tudingan Pelanggaran Janji
Baca Juga: IHSG Tertekan Krisis Selat Hormuz: Pasar Keuangan Indonesia Hadapi Bayang-bayang Risiko Stagflasi
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi pemerintah, Komando Militer Pusat Iran menilai Amerika Serikat telah mengkhianati kesepakatan awal terkait kebebasan navigasi.
“(Blokade) sampai AS memulihkan kebebasan bergerak untuk semua kapal yang mengunjungi Iran,” demikian pernyataan Komando Militer Iran sebagaimana dikutip dari The Guardian, Minggu, 19 April 2026.
Pihak militer menegaskan bahwa selama Amerika Serikat tidak mencabut pengepungan angkatan lautnya, jalur strategis tersebut tidak akan dibuka untuk umum. “Situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan secara ketat,” tambah pernyataan tersebut.
Kebuntuan di Pakistan dan Ultimatum Trump
Ketegangan ini berakar dari gagalnya dialog antara Teheran dan Washington dalam pertemuan di Pakistan beberapa waktu lalu.




