URBANCITY.CO.ID – PT Pertamina (Persero) blak-blakan mengenai beratnya beban ganda yang dipikul perusahaan minyak milik negara atau National Oil Company (NOC).
Di tengah ketidakpastian geopolitik global, Pertamina dituntut menjadi mesin pencetak laba negara sekaligus benteng utama penjaga ketahanan energi nasional.
Untuk mengurai tantangan tersebut, raksasa migas pelat merah ini melirik arsitektur kebijakan energi global, salah satunya keberhasilan konsorsium Jepang di Afrika. Langkah taktis ini dinilai mendesak demi memuluskan transisi energi rendah emisi di dalam negeri.
“Karena itu, strategi pengembangan energi tidak hanya bertumpu pada minyak, tetapi juga perlu memperkuat peran gas bumi sebagai energi transisi yang mampu menyediakan energi lebih terjangkau dengan emisi yang lebih rendah,” ujar Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, dalam diskusi panel IPA Convex ke-50 di Jakarta, dikutip Sabtu (23/5/2026).
Baca Juga: Kejar Target NZE 2060, Pertamina Racik Minyak Jelantah Hingga Amonia Hijau
Arsitektur Proyek: Belajar dari Proyek LNG Mozambique
Oki memaparkan, proyek energi berskala raksasa tidak akan bisa berjalan mandiri tanpa adanya sokongan penuh dari ekosistem negara. Ia mencontohkan bagaimana Pemerintah Jepang turun tangan mengamankan proyek LNG Mozambique dari hulu ke hilir.
Di sana, Jepang tidak hanya menerbitkan kebijakan di atas kertas, tetapi menerjunkan instrumen finansialnya secara terintegrasi.
Mulai dari suntikan modal (equity) lewat JOGMEC, jaminan pembiayaan dari JBIC, asuransi investasi via NEXI, hingga kepastian serapan pasar jangka panjang (offtaker) oleh korporasi raksasa JERA.




