URBANCITY.CO.ID – Desa wisata kini tidak hanya menjadi destinasi rekreasi, tetapi juga berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang menarik investasi berbasis potensi lokal. Melalui pengembangan ekosistem desa wisata, Bank Indonesia (BI) mengintegrasikan sektor kopi, madu, dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) agar mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, serta memperkuat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak lagi bertumpu pada satu komoditas. Sebaliknya, kolaborasi antar-sektor menciptakan rantai ekonomi yang saling mendukung sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku UMKM maupun masyarakat sekitar.
Ekosistem Desa Wisata Tingkatkan Nilai Ekonomi Lokal
Direktur Departemen Komunikasi BI Anton Pitono menjelaskan pengembangan Desa Wisata Sait Buttu, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dilakukan melalui pendekatan ekosistem. Strategi ini menghubungkan berbagai potensi desa agar saling memperkuat dan menciptakan destinasi wisata yang memiliki daya saing tinggi.
“Di sini kebetulan ada sebuah ekosistem yang lengkap. Ada madu, ada kopi, kemudian Pokdarwis yang semuanya coba kami gabungkan menjadi satu sehingga menjadi tujuan wisata,” kata Anton di Desa Wisata Sait Buttu, Simalungun, Sumatera Utara, Sabtu.
Menurut Anton, integrasi tersebut memungkinkan masyarakat mengoptimalkan potensi ekonomi desa ketika kawasan berkembang menjadi destinasi wisata yang diminati wisatawan. Pendekatan ini juga meningkatkan nilai jual produk lokal karena wisata tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga pengalaman menikmati hasil bumi dan budaya setempat.




