URBANCITY.CO.ID – Industri perfilman nasional kini menyaksikan pergeseran paradigma.
Yaitu Ketika kearifan lokal tidak lagi sekadar menjadi latar cerita, tetapi berubah menjadi produk ekonomi kreatif yang bernilai tinggi.
Film Foufo karya Bayu Skak bersama SKAK Studios dan SinemArt menjadi contoh sukses jagat hiburan tanah air.
Kehadiran film ini membuktikan bahwa narasi kearifan lokal Madura mampu bertransformasi menjadi aset Intellectual Property (IP) yang kompetitif.
Bagi masyarakat urban yang jeli melihat peluang, tren ini adalah bentuk investasi pada kekayaan budaya yang mampu menggerakkan ekonomi daerah.
Selain itu, mampu memberikan nilai tambah nyata bagi industri hiburan nasional.
Baca juga: Gandeng TRAC, Kementerian Ekraf Siapkan Layanan Transportasi untuk Konser dan Film
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengapresiasi terwujudnya visi besar di balik produksi film yang mengangkat potensi daerah ini.
“Kami mengapresiasi upaya Mas Bayu bersama SKAK Studios dan SinemArt yang menghadirkan film dengan mengangkat kearifan lokal Madura,” ujarnya saat menghadiri gala premiere film Foufo di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat (3/7).
Menurut Menteri Ekraf, tahun lalu Mas Bayu datang ke Kementerian Ekraf untuk memperkenalkan Foufo.
“Hari ini kita melihat komitmen tersebut telah terwujud menjadi sebuah karya yang siap dinikmati masyarakat,” imbuhnya.
Ia menambahkan, hal itu membuktikan bahwa cerita dari daerah mampu menjadi tontonan yang menarik sekaligus memiliki potensi ekonomi.
Baca juga: Tipu Korban Pakai Film Cina, Satgas PASTI Sikat Aplikasi Bodong Yudia dan Cantvr
Memberdayakan Talenta Lokal Melalui Inovasi
Produksi film Foufo membuktikan bahwa ekosistem kreatif daerah memiliki kapasitas besar.




