Sinergi internasional ini salah satunya mewujud dalam gelaran ASEAN-Japan Forum di Jakarta pada Selasa (19/5). Forum ini menjadi tempat bertemunya pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi untuk merumuskan masa depan tenaga kerja regional.
Baca Juga: Kemenperin Tepis Isu Deindustrialisasi, Sebut Manufaktur RI Masih Bertaji
Presiden Direktur Japan External Trade Organization (JETRO) Jakarta, Shinji Hirai, yang hadir dalam forum tersebut, menyoroti dinamika angkatan kerja di tanah air.
“Hal ini sangat relevan di Indonesia, di mana pertumbuhan ekonomi sedang kuat dan angkatan kerjanya muda serta dinamis, sementara industri membutuhkan talenta yang lebih terampil dan siap kerja,” ungkap Shinji.
Kolaborasi Nyata RI-Jepang Sejak 2021
Guna menyelaraskan kebutuhan tersebut, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI), Wulan Aprilianti Permatasari, berharap kerja sama dengan pihak Jepang, termasuk melalui AMEICC, bisa terus meluas.
“Kami berharap AMEICC dapat terus mendukung peningkatan daya saing SDM industri Indonesia melalui transformasi digital sehingga mampu memperkuat daya saing industri nasional,” kata Wulan.
Baca Juga: Kemenperin Gandeng MR.DIY, Jutaan Produk IKM Siap Banjiri Toko Ritel Modern
Hubungan erat Indonesia dan Jepang di sektor pendidikan industri ini sebenarnya telah berjalan panjang. Sejak 2022, Kemenperin bersama Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Jepang telah melatih para pengajar vokasi dengan metodologi produktivitas seperti 5S dan Kaizen.
Pada tahun 2025, materi tersebut diperluas ke arah Green Transformation (GX) dan Digital Transformation (DX).




