“Bagus sekali arahan dari Bapak Presiden, karena memang itu yang menjadi harapan kita. Jadi, sekarang industrialisasinya harus kita kembangkan yang berbasis sumber daya alam karena kekuatan sumber daya alam kita itu bisa menghasilkan produk-produk turunan yang nanti pada gilirannya akan memperkuat mata rantai dari industri nasional itu sendiri,” urai Agus.
Baca Juga: Kemenperin Pacu Industri Hijau Lewat Optimalisasi Sentra IKM Kerajinan Bambu
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa downstreaming atau hilirisasi komponen otomotif terintegrasi akan mempercepat langkah konkret tersebut.
“Kalau kita bicara soal baterai misalnya, itu juga harusnya bisa menjadi keunggulan bagi Indonesia, karena kita menjadi produsen nikel terbesar di dunia dan juga komponen-komponen otomotif lainnya yang merupakan hasil dari downstreaming dari produk-produk di hulunya,” tuturnya.
Optimisme ini kian menebal seiring kepastian adanya skema pembiayaan pembangunan terpadu melalui institusi superholding Danantara, yang ditugaskan khusus oleh Presiden untuk menyuntik permodalan industri strategis seperti otomotif dan elektronika.
Tulang Punggung PDB Nasional Tumbuh 5,04 Persen
Sektor manufaktur terbukti menjadi motor utama penggerak ekonomi domestik. Berdasarkan data makro terbaru, industri pengolahan nonmigas pada triwulan I tahun 2026 tumbuh ekspansif sebesar 5,04 persen (year-on-year).
Baca Juga: Kemenperin Pacu Industri Hijau Lewat Optimalisasi Sentra IKM Kerajinan Bambu
Sektor ini juga kokoh menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan kontribusi mencapai 19,07 persen.




