Otoritas perusahaan memproyeksikan megaproyek ini mampu menyemburkan minyak mentah hingga menyentuh 5.126 barel per hari (Barrel Oil Per Day/BOPD) saat memasuki masa puncak produksinya.
Baca juga:Â Laba Bersih US$ 215 Juta, RUPST PGN Setujui Dividen Jumbo Rp 3 Triliun
Secara kumulatif, Lapangan Ronggolawe menyimpan potensi sumber daya hidrokarbon mencapai 10 juta barel minyak siap kuras.
SAKA akan mengeksploitasi cadangan ini secara optimal hingga masa kontrak kerja sama blok tersebut berakhir demi memperkuat ketahanan energi nasional.
Insinyur perminyakan SAKA mengidentifikasi keberadaan minyak bumi tersebut pada lapisan bebatuan CD Carbonate.
Tim teknis membuktikan tebalnya kandungan minyak melalui serangkaian pengujian reservoir yang ketat, meliputi uji kandung lapisan (Drill Stem Test), pemantauan tekanan bawah tanah, serta pengambilan sampel fluida di laboratorium.
Cetak biru proyek mengamanatkan pengeboran empat sumur pengembangan baru yang akan tersambung langsung ke fasilitas produksi induk di WK Pangkah via pipa bawah laut.
Baca juga:Â Sinergi Pertamina: PGN Resmi Amankan Pasokan Gas Raksasa dari Blok Masela
Memangkas Investasi Lewat Strategi Unitisasi Blok
Manajemen SAKA menerapkan strategi penggabungan lapangan alias unitisasi antara WK Pangkah dengan WK West Madura Offshore (WMO) guna menghemat biaya modal (capital expenditure).
Langkah ini melibatkan kerja sama taktis dengan PT Pertamina Hulu Energi WMO selaku operator blok tetangga tersebut.
Siasat unitisasi ini terbukti ampuh mempercepat komersialisasi minyak bumi dari struktur Ronggolawe tanpa harus membangun platform produksi baru yang memakan biaya triliunan rupiah.




