“Kinerja kuartal pertama tahun 2026 ini menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk dapat terus melakukan perbaikan secara bertahap guna memberikan pencapaian dan kontribusi terbaik bagi perusahaan, pelanggan, masyarakat dan negara,” ungkap Dian dalam keterangannya, Sabtu (30/5).
Baca Juga: ZTE dan Telkom Sepakati Kembangkan Infrastruktur Digital Berbasis AI
Bisnis Digital Telkomsel Jadi Mesin Cetak Uang
Menengok lebih dalam ke lini bisnis ritel konsumen (B2C), anak usaha Telkom, Telkomsel, tampil sebagai motor penggerak utama.
Telkomsel sukses menyumbang pendapatan konsolidasian sebesar Rp27,6 triliun, tumbuh 1,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Gurita bisnis data dan gaya hidup digital menjadi primadona pengumpul rupiah.
Investasi jaringan yang masif membuat lalu lintas data (payload) ikut terkerek naik 2,3 persen.
Menariknya, strategi Telkom dalam merapikan pilihan produk dan menerapkan harga yang rasional di pasar berhasil mendongkrak rata-rata pendapatan per pengguna (Average Revenue Per User/ARPU) menjadi Rp45.100, atau melesat 6,4 persen YoY.
Kondisi ini menjadi sinyal positif bahwa industri telekomunikasi tanah air mulai bergerak ke arah kompetisi yang lebih sehat dan stabil, menjauh dari perang tarif yang membakar modal.
Baca Juga: Transformasi TLKM 30 Berhasil, Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun di Tahun 2025
Internet Menjelma Jadi Kebutuhan Primer
Pihak manajemen Telkom memandang cerah masa depan bisnis konektivitas di Indonesia. Internet tidak lagi dipandang sebagai sarana hiburan sekadar melepas penat, melainkan sudah menjelma menjadi urat nadi aktivitas harian masyarakat.




