Baca Juga: Prabowo Instruksikan Bunga Kredit Keluarga Prasejahtera Turun di Bawah 9 Persen
“Kalau mau berangkat operasi tempur yang kita cek bukan peluru, tapi ada beras nggak. Kalau ada beras kita hitung berasnya kuat untuk berapa hari. Kalau berasnya kuat untuk lima hari ya lima hari kita operasi, kalau 14 hari ya 14 hari kita operasi. Bayangkan saudara-saudara kalau nggak ada beras? Tentara itu juga susah dia beroperasi,” imbuhnya.
Ia menambahkan, meski prajurit TNI dan Polri dibekali kemampuan navigasi dan bertahan hidup (survival) di hutan dalam kondisi darurat, pasokan logistik dasar tetap menjadi penentu utama pergerakan pasukan di lapangan.
Petani dan Nelayan Adalah Penopang NKRI
Lebih lanjut, Presiden mengenang lembaran sejarah perang kemerdekaan Indonesia. Pada masa awal berdirinya republik, negara belum memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menggaji tentara maupun polisi.
Satu-satunya penyokong garda depan pertahanan saat itu, lanjut Prabowo, adalah kerelaan para petani di pelosok desa yang menyuplai makanan secara sukarela kepada para pejuang.
Baca Juga: Jaga Stabilitas Ekonomi, Presiden Prabowo Minta Eksportir SDA Tak Simpan Uang di Luar Negeri
“Sejarah bangsa mengajarkan kepada kita, waktu kita perang kemerdekaan dulu itu nggak ada APBN, tentara nggak ada gajinya, polisi nggak ada gajinya, nggak ada surat keputusan. Waktu itu para petani yang dukung tentara dan polisi. Rakyat desa keluar memberi makan kepada kita, memberi minum kepada kita. Mereka punya pisang dikasih, punya ubi dikasih, punya tiwul dikasih,” ucapnya di hadapan para hadirin.






