Rapor Ekspor Melompat Tinggi
Jika berkaca pada data global dari *World Gold Council*, gairah masyarakat dunia terhadap emas batangan memang melonjak hingga 16 persen, yakni mencapai 1.402 ton pada tahun 2025.
Sebaliknya, konsumsi perhiasan emas di tanah air tercatat menyusut dari 22,8 ton pada 2024 menjadi 16,6 ton pada 2025.
Namun, Agus Gumiwang menegaskan bahwa penurunan konsumsi domestik ini bukan berarti industri perhiasan kita sedang meredup.
Sektor ini justru menjadi pahlawan neraca perdagangan luar negeri Indonesia berkat performa ekspornya yang luar biasa.
Baca Juga: Benteng Industri Perhiasan, Kemenperin Pacu Bank Bullion di Tengah Lonjakan Harga Emas Dunia
“Industri perhiasan masih memberikan kontribusi yang besar bagi neraca perdagangan Indonesia, terlihat dari nilai ekspor kumulatif barang perhiasan dan barang berharga yang tumbuh signifikan 64,72 persen pada 2025. Nilainya naik dari US$5,5 miliar pada 2024 menjadi US$9,1 miliar pada 2025,” ujarnya merinci.
Geliat optimisme ini juga disuarakan oleh Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita. Mayoritas pengrajin dan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) memilih setia di jalur produksi estetika ini ketimbang ikut-ikutan menyeberang ke bisnis perdagangan logam mulia murni.
Saat ini, Indonesia memiliki fondasi kuat berupa 539 unit usaha perhiasan—terdiri dari 49 industri besar, 79 industri menengah, dan 411 industri kecil—yang menghidupi 21.116 tenaga kerja di berbagai daerah.
“Laporan Trademap.org memperlihatkan bahwa 83,96 persen produk utama ekspor industri perhiasan Indonesia berupa barang perhiasan dan bagiannya dari logam mulia selain perak dengan nilai mencapai USD7,64 miliar,” ungkap Reni.




