<strong>URBANCITY.CO.ID</strong> - Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dan indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi dan biaya produksi petani. Menurut siaran pers Badan Pusat Statistik kemarin (1/7/2024), secara nasional NTP pada Juni 2024 mencapai 118,77 poin atau naik 1,77 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP itu dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) meningkat 1,85 persen, lebih tinggi dibanding kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya sebesar 0,08 persen. NTP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami kenaikan tertinggi (4,60 persen) dibanding kenaikan NTP provinsi lainnya. NTP Provinsi Kalimantan Selatan mengalami penurunan terbesar (0,62 persen) dibanding penurunan NTP provinsi lain. Pada Juni 2024 terjadi penurunan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Indonesia sebesar 0,01 persen, terutamadisebabkan oleh penurunan indeks pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Juni 2024 tercatat 121,90 poin, atau naik 1,65 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya. Transaksi penjualan gabah di 24 provinsi selama Juni 2024, mencatat transaksi gabah kering panen (GKP) 61,59 persen, gabah kering giling (GKG) 29,26 persen, dan gabah luar kualitas 9,15 persen.<!--nextpage--> Selama Juni 2024, rata-rata harga GKP di tingkat petani mencapai Rp6.171,00 per kg, naik 5,64 persen, dan di tingkat penggilingan Rp6.319,00 per kg atau naik 5,44 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama bulan sebelumnya. Sedangkan rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp6.859,00 per kg atau naik 2,75 persen, dan di tingkat penggilingan Rp6.986,00 per kg atau naik 2,78 persen. Harga gabah luar kualitas di tingkat petani tercatat Rp5.767,00 per kg atau naik 5,84 persen, dan di tingkat penggilingan Rp5.945,00 per kg atau naik 6,62 persen. Baca juga: <a href="https://urbancity.co.id/bps-deflasi-mei-karena-penurunan-harga-beras/">BPS: Deflasi Mei Karena Penurunan Harga Beras</a> Dibandingkan Juni 2023, rata-rata harga gabah pada Juni 2024 di tingkat petani untuk kualitas GKP, GKG, dan luar kualitas naik masing-masing sebesar 11,34 persen, 8,17 persen, dan 8,04 persen. Di tingkat penggilingan, rata-rata harga gabah pada Juni 2024 dibandingkan Juni 2023 untuk kualitas GKP, GKG, dan luar kualitas meningkat masing-masing sebesar 11,39 persen, 8,13 persen, dan 9,02 persen. Pada Juni 2024, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan tercatat Rp12.902,00 per kg, turun 0,75 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan beras kualitas medium di penggilingan Rp12.314,00 per kg atau naik 2,01 persen, beras kualitas submedium Rp12.111,00 atau naik 0,96 persen, dan rata-rata harga beras pecah di penggilingan Rp12.073,00 per kg atau naik 3,19 persen. Dibandingkan dengan Juni 2023, rata-rata harga beras di penggilingan pada Juni 2024 untuk kualitas premium, medium, submedium, dan pecah naik masing-masing 11,94 persen; 11,13 persen, 16,17 persen, dan 28,97 persen.<!--nextpage--> <strong>Dapatkan Informasi Menarik Lainnya di <a href="https://news.google.com/publications/CAAqBwgKMNO7qgww4Lu3BA?ceid=ID:id&oc=3">GOOGLE NEWS</a></strong>