Mengonversi Narasi Filosofis Menjadi Konten Berdaya Saing Global
Baca Juga: Festival Budaya Pantai Sedari: Mengubah Kreativitas Kostum Jadi Magnet Wisata Ekonomi Lokal
Karakter wayang menyajikan modal intelektual yang sangat adaptif terhadap kebutuhan narasi industri konten modern.
Pengakuan UNESCO atas wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 2003 memperkuat legitimasi global seni bertutur Nusantara.
Payung hukum Keppres Nomor 30 Tahun 2018 turut memperkokoh posisi wayang sebagai warisan budaya takbenda yang bernilai ekonomi tinggi.
“Wayang merupakan bukan hanya hiburan dan tontonan, tapi di dalam cerita wayang selalu ada tuntunan, karena dalang di sini adalah yang menjadi pusat perhatian. Dalang ini menjadi teladan yang memberikan cerita-cerita di dalamnya ada pesan moral. Di dalam lakon wayang, ada cerita-cerita yang selain menghibur, juga cerita yang menjadi pegangan bagi kita semua,” ungkap Menbud.
Baca Juga: Indonesia dan Korsel Jajaki Kerja Sama Budaya, Dorong Investasi Kreatif Global
Kementerian Kebudayaan memberikan penghargaan khusus kepada empat dalang Dinasti Sunandar atas loyalitas mereka menjaga kesinambungan tradisi wayang golek.
Regenerasi dalang muda memastikan transmisi ilmu dan teknik pertunjukan tetap berjalan secara berkesinambungan di tengah arus digitalisasi.
Dedikasi para maestro ini menjaga ketersediaan talenta seni yang siap berkolaborasi dengan agensi hiburan dan produser multimedia perkotaan.
Memadukan Seni Klasik dan Pop Culture demi Memikat Audiens Urban




