Team Leader International Performance Division Gyeongsangbuk-do, Yeon Bu-jae, menawarkan skema kolaborasi bisnis berbasis pertukaran komunitas dan ekonomi inovatif.
Integrasi kawasan manufaktur modern dengan sentra sejarah membuktikan bahwa pelestarian tradisi mampu berjalan selaras dengan percepatan industri berat.
Konsep tata kelola kawasan ini memberi inspirasi bagi pelaku bisnis properti dan pengembang kawasan terpadu di tanah air.
Baca Juga: Festival Dalang Anak 2026: Investasi Karakter Generasi Muda dan Aset Kreatif Bangsa
“Sebagai provinsi terbesar di kawasan tenggara Korea Selatan, Gyeongsangbuk-do tidak hanya menjadi economic powerhouse berbasis industri manufaktur unggulan, tetapi juga merupakan pusat kebudayaan dan sejarah utama yang menaungi Kota Gyeongju yang kaya situs warisan dunia UNESCO dan Kota Andong yang merupakan pusat warisan Konfusianisme dan Desa Budaya Hahoe. Dengan potensi tersebut, kunjungan ini diharapkan dapat membuka peluang kerja sama yang konkret dan saling menguntungkan antara Indonesia dan Gyeongsangbuk-do,” jelas Yeon Bu-jae.
Pameran bersama Topeng Indonesia dan Korea di Museum Nasional Indonesia memikat antusiasme delegasi mancanegara terhadap kekayaan seni kriya Nusantara.
Pengalaman positif ini mendorong Pemerintah Provinsi Gyeongsangbuk-do untuk menggelar agenda pertukaran koleksi museum secara berkala di masa depan.
Kegiatan berskala internasional semacam ini menghidupkan ekosistem kuratorial dan membuka akses jaringan seni global bagi talenta muda nasional.




