Menghubungkan Jejak Sejarah Maritim dengan Pasar Modern
Ikatan diplomasi kebudayaan kedua negara ternyata berakar dari jalur perdagangan purba yang menghubungkan Nusantara dengan Asia Timur.
Baca Juga: Dorong Investasi Kreatif Samosir, Ekraf Buka Peluang Akses Modal Usaha
Temuan arkeologis manik-manik kaca kuno asal Jawa di kompleks makam Kerajaan Silla (57 SM – 935 M) Gyeongju membuktikan tingginya nilai komoditas artisan lokal sejak ribuan tahun silam.
Bukti historis ini menjadi modal narasi bernilai tinggi bagi perancang produk kreatif perkotaan untuk mengemas karya seni berkelas dunia.
Gyeongsangbuk-do mengukuhkan posisinya sebagai mitra strategis dengan portofolio cagar budaya yang sangat solid. Pemerintah provinsi tersebut mengalokasikan anggaran pelestarian berskala masif guna memelihara aset sejarah sebagai magnet ekonomi pariwisata premium.
Model pembiayaan ini menawarkan studi kasus investasi menarik bagi pengembangan kota-kota bersejarah di Indonesia.
Baca Juga: Potensi Bisnis Industri Gim Indonesia: Peluang Investasi Kreatif dari Kerja Sama Ekraf & Coda
“Sebagai tempat berdirinya ibu kota kuno Kerajaan Silla (Gyeongju) dan pusat warisan Konfusianisme (Andong), Gyeongsangbuk-do mengelola sekitar 15% dari total cagar budaya nasional Korea Selatan dan 35% dari situs Warisan Dunia UNESCO di negara tersebut, dengan alokasi anggaran pelestarian yang cukup besar per tahun,” ungkap Wakil Gubernur Urusan Administrasi Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan, Hwang Myeong Seok.
Memonetisasi Sinergi Budaya dan Pusat Ekonomi Kreatif




