Baca Jua: Genjot Daya Saing Manufaktur, Kemenperin Perkuat Sertifikasi Terintegrasi Lewat SIINas
Angka ini mencerminkan keberhasilan strategi hilirisasi mineral yang digalakkan pemerintah untuk memperkuat rantai pasok industri hulu.
Di sisi lain, sektor padat karya tetap menunjukkan taji. Industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki diproyeksikan menyerap 37.350 tenaga kerja baru, disusul industri logam dasar dan bahan kimia.
Secara keseluruhan, jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur per Agustus 2025 telah menyentuh angka 20,26 juta orang—level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Momentum Kebijakan Pro-Industri
Febri menjelaskan, penguatan kontribusi manufaktur terhadap PDB—yang meningkat dari 17,92 persen pada 2022 menjadi 19,20 persen pada akhir 2025—tak lepas dari rangkaian kebijakan strategis.
Ia menyebut reformasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), kebijakan non-tariff barrier, serta perlindungan terhadap serbuan produk impor sebagai faktor kunci.
Baca Juga: Hilirisasi Furnitur: Indonesia Targetkan Hub Manufaktur Global Berbasis Desain dan Kelestarian
Kebijakan ini, menurut Febri, berjalan selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong kemandirian ekonomi.
Kemenperin kini fokus mengarahkan investasi ke sektor prioritas seperti otomotif, elektronika, hingga industri berbasis hilirisasi sumber daya alam.
“Alhamdulillah, di tengah situasi global yang tidak menentu, industri nasional tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini menunjukkan resiliensi yang sangat kuat dan daya saing industri Indonesia terus meningkat,” tutur Febri.






