Empat tim finalis dari MTsN 1 Lumajang, SMP Islam Al Azhar 37 Pekanbaru, SMP Negeri 95 Jakarta, dan SMPII Al Abidin Boyolali beradu ketangkasan logika komputasi secara langsung di hadapan juri.
Baca Juga: Inspirasi Urban: Desa Adiluhur Cetak Cuan Digital Tanpa Hijrah Kota
Tantangan memecahkan algoritma secara instan memaksa siswa menerapkan strategi kolaborasi, berpikir komputasional, serta ketahanan mental di bawah tekanan waktu.
Gaya belajar terapan seperti ini membentuk karakter generasi muda yang tanggap terhadap problem perkotaan dan siap menyongsong ekosistem kerja profesional masa depan.
Para guru turut meningkatkan kompetensi pedagogi digital melalui lokakarya interaktif bersama Google dan Assemblr Edu di area pameran.
Sinergi ini memperkaya portofolio keterampilan para pendidik agar mampu merancang kurikulum sekolah yang adaptif terhadap inovasi mutakhir.
Baca Juga: KemenEkraf Pacu Musisi Parapat Tembus Pasar Digital dan Industri Kreatif
Inkubasi Berkelanjutan Ubah Konsumen Pasif Menjadi Produsen Cerdas
CEO Assemblr Edu, Hasbi Asyadiq, menegaskan komitmen perusahaannya dalam merawat ekosistem talenta anak bangsa secara berkelanjutan dan terukur.
Program ini mencatatkan partisipasi luas dari 6.800 peserta yang tersebar di 3.499 sekolah dan 463 kabupaten/kota.
“Masa depan bukan hanya tentang bagaimana kita menggunakan teknologi, tapi bagaimana teknologi bisa berdampak lebih nyata,” ujar Hasbi.
Baca Juga: KemenEkraf dan Shopee Cetak Santri Solo Jadi Aset Kreator Digital Unggul
Assemblr Edu membagi kompetisi ke dalam jalur Dreamers (SD), Makers (SMP), Visionaries (SMA/SMK), dan Edu-Innovators (Guru) dengan penilaian ketat oleh 34 juri daerah serta tiga juri nasional.




