Dari sisi profil debitur, kredit korporasi mencetak lonjakan tertinggi sebesar 15,51 persen yoy. Kabar baiknya, sektor UMKM yang sempat melambat kini mulai memperlihatkan geliat pemulihan dengan tumbuh positif 0,16 persen yoy.
Baca juga:Â Tiki Taka OJK Jaga Likuiditas Pasar Modal RI dari Gempuran Global
Jika ditilik dari peta kepemilikan, bank-bank pelat merah (BUMN) menjadi jawara penyaluran modal dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 14,35 persen yoy.
Di seberang meja, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) ikut menebal 11,39 persen yoy menjadi Rp10.077 triliun. Komponen giro memimpin dengan pertumbuhan 16,99 persen, disusul tabungan 9,00 persen, dan deposito 8,65 persen.
Mewaspadai Ledakan Paylater dan Menjaga Benteng Likuiditas
Satu fenomena konsumer yang kini berada dalam radar pengawasan ketat OJK adalah produk buy now pay later (BNPL) alias paylater yang disediakan oleh perbankan. Meski porsinya terhadap total portofolio kredit masih mini—yakni sebesar 0,34 persen—pertumbuhannya tergolong ugal-ugalan.
Ia menyebut, per April 2026 baki debet kredit BNPL yang terekam dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) melonjak tajam 37,29 persen yoy menjadi Rp29,3 triliun. Jumlah akun penggunanya pun mengular hingga menyentuh 31,76 juta rekening.
Baca juga: Bos OJK: Menjaga Jangkar Finansial di Tengah Badai ‘Higher for Longer’
“Ekspansi ugal-ugalan ini menuntut perbankan untuk lebih selektif agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari,” ucapnya mengingatkan.
Namun, Hasan menepis kekhawatiran pasar mengenai risiko kekeringan likuiditas. Indikator daya tahan bank dipastikan masih berada jauh di atas ambang batas aman (threshold) yang ditetapkan regulator.




