Baca juga: Kemenpar Gandeng BRI Jazz Gunung 2026 Poles Wisata Pegunungan Nasional
Pengelola wisata merancang ketiga pilar ini untuk memberikan pengalaman berlibur yang berkelanjutan bagi para tamu.
Pendekatan baru tersebut menawarkan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal di setiap destinasi tujuan.
Pemerintah membedakan konsep wisata gastronomi dengan aktivitas wisata kuliner pada umumnya.
Pelancong kini tidak hanya mengejar cita rasa makanan lezat, tetapi juga mendalami sejarah dan filosofi di balik setiap hidangan khas daerah.
Warisan budaya unik dari Sabang sampai Merauke menjadi identitas bangsa yang sangat memikat bagi wisatawan mancanegara.
Rantai nilai industri gastronomi melibatkan banyak aktor penting mulai dari petani, nelayan, hingga para pengrajin pangan tradisional.
Baca juga: Cetak Fasilitator Lokal, Kemenpar Genjot Praktik Pariwisata Hijau Berbasis Warga
Pemerintah pusat berkomitmen memperluas manfaat ekonomi pariwisata secara merata ke seluruh lapisan masyarakat melalui penguatan ekosistem kuliner.
Wisatawan kini dapat membangun kedekatan emosional dengan budaya dan kehidupan warga lokal melalui aktivitas makan siang yang berkesan.
“Kami ingin menguatkan posisi gastronomi Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pelengkap perjalanan wisata, tetapi menjadi alasan utama wisatawan datang ke Indonesia,” ujarnya.
“Kami juga ingin mengajak wisatawan mengenal dan memahami cerita di balik setiap hidangan, karena setiap makanan memiliki sejarah dan nilai budaya yang unik,” kata Wamenpar.




