Bagi Bambang, rantai industri sawit terlalu kompleks untuk digerakkan oleh pekerja yang pasif. Perusahaan membutuhkan SDM yang adaptif, berani berinovasi, dan memiliki visi jangka panjang terkait efisiensi serta pengelolaan risiko.
“Seluruh proses bisnis saling terhubung dan membutuhkan kolaborasi yang kuat agar mampu menghasilkan kinerja terbaik,” katanya menambahkan.
Baca juga: Lebaran Sultan di Kampar: Petani Sawit Mitra PTPN IV Raup THR Rp28 Juta
Sawit Tak Bisa Berbuah Sendirian
Sentimen penolakan terhadap ego sektoral ditiupkan lebih kencang oleh Operation Head PTPN IV Regional III, Sori Ritonga.
Mengusung jargon filosofis “Tidak Ada Pohon Sawit yang Berbuah Sendirian”, Sori mengingatkan bahwa setiap ton minyak sawit mentah atau CPO yang dikapalkan perusahaan lahir dari peluh kolektif lintas divisi.
Sinergi mutlak terjalin mulai dari buruh di kebun, tim teknik, operator pabrik kelapa sawit, bagian administrasi, SDM, hingga divisi pemasaran. Jika salah satu lini macet karena ego kelompok, target korporasi otomatis berantakan.
“Tidak ada divisi yang lebih penting. Yang ada adalah saling melengkapi. Keberhasilan perusahaan hanya dapat dicapai ketika seluruh bagian bekerja sebagai satu kesatuan,” tegas Sori.
Ia menganalogikan kontribusi sekecil apa pun dari tiap individu bak sebutir brondolan sawit yang menggenapi tonase timbangan perusahaan.
Baca juga: Dirut PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa Pasok Alat Keterampilan untuk Siswa SLB Sri Mujinab Pekanbaru
Menolak Kerja Rodi, Memburu Keseimbangan




