“Koordinasi yang intens di antara seluruh pemangku kepentingan ekonomi di dalam rangka tadi, menjaga baik moneter maupun fiskal kita, terus berada di posisi yang kita harapkan,” tutur mantan legislator tersebut.
Baca juga: Mensesneg: Hampir Semua Masalah MBG Karena Tak Ikuti Prosedur
Situasi geopolitik dan makro hari ini, menurut Prasetyo, sudah berada pada level yang memaksa semua pemangku kepentingan untuk duduk di satu meja kompromi.
“Dalam situasi hari ini, menuntut kerja sama di antara kita semua. Kebijakan-kebijakan harus saling mendukung, saling memperkuat satu sama lain,” katanya menambahkan.
Di Atas Kertas Kita Kuat
Di tengah kecemasan pasar terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah, Mensesneg mencoba melempar jangkar optimisme.
Merujuk pada laporan capaian teranyar, ia mengeklaim raport fisik perekonomian Indonesia sejatinya masih memperlihatkan otot-otot fundamental yang tebal, baik dari sisi kalkulasi bank sentral maupun dari kantong kas negara.
“Baik dari sisi ekonomi makro di moneter yang dibawa oleh Bank Indonesia, maupun di sisi fiskal yang dikendalikan oleh Menteri Keuangan yang kemarin dilaporkan dari angka-angka indikator menunjukkan bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita memang cukup kuat,” jelas Prasetyo.
Baca juga: Demi Pengrajin Tahu dan Ibu Rumah Tangga, Menkeu Purbaya Janji Stabilkan Rupiah
Kendati demikian, pemerintah emoh terbuai dengan angka-angka manis di atas kertas. Kewaspadaan tinggi tetap dipasang untuk mengantisipasi sentimen-sentimen liar yang sewaktu-waktu bisa mengoreksi target pertumbuhan nasional.




