Menbud menilai gaya hidup metropolis Jakarta berakar kuat dari karya sastra yang merekam dinamika sosial masyarakat urban sejak era kolonial.
Baca Juga: OJK Dorong Kekayaan Intelektual Jadi Aset Investasi dan Perluas Investor Reksa Dana
“Aman Datuk Madjoindo merantau dan hidup di Jakarta, menjadi orang Jakarta, bahkan dalam novel-novelnya termasuk Si Doel Anak Betawi, percakapannya menggunakan bahasa dan dialek Betawi serta membawa gaya hidup budaya Betawi.
Sastra merupakan bagian yang sangat penting dalam pemajuan kebudayaan. Di era globalisasi ini, dunia menjadi global village tanpa tembok batas, karena itulah Kementerian Kebudayaan akan terus mendorong ekosistem sastra agar karya klasik ini dapat dibaca oleh masyarakat internasional,” ungkap Menbud.
Menghidupkan Potensi Bisnis Kekayaan Intelektual Sastra Klasik
Dedikasi 38 tahun Aman Datuk Madjoindo di Balai Pustaka dan penerbit Djambatan menghasilkan deretan karya lintas genre bermutu tinggi.
Baca Juga: Menteri Ekraf Gandeng MAPPI, Dorong Kekayaan Intelektual Jadi Aset Jaminan Bank
Karya etnografi seperti Pertolongan Dukun, Rusmala Dewi, Si Cebol Rindukan Bulan, hingga Cindur Mata menyediakan bahan baku narasi berlimpah untuk adaptasi film, animasi, dan game modern.
Para pelaku industri kreatif perkotaan dapat memonetisasi warisan cerita rakyat ini menjadi produk hiburan yang memikat pasar global.
Kebijakan ini sejalan dengan mandat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dalam mengembangkan objek kebudayaan dari manuskrip kuno hingga seni pertunjukan modern.




