URBANCITY.CO.ID – Nelayan di Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, Karawang, membuktikan bahwa metode tangkap tradisional dengan perahu berkapasitas 1,5 GT masih menjadi penggerak ekonomi pesisir yang sangat andal.
Mereka mengoperasikan perahu secara efektif dalam jarak satu hingga satu setengah mil dari bibir pantai.
Tujuannya, menjaga keseimbangan ekosistem laut sekaligus memastikan produktivitas harian tetap terjaga.
Bagi masyarakat urban, ketangguhan nelayan ini merupakan cerminan gaya hidup bahari yang tangguh, efisien, dan sangat menghargai kearifan lokal.
“Kalau nelayan tradisional paling melaut satu mil, paling jauh satu setengah mil. Perbekalannya juga sedikit,” ujar Timing Kurdianto (53), nelayan sekaligus Ketua RT setempat.
Baca juga: Presiden Prabowo: 1.386 Kampung Nelayan Merah Putih Siap Diresmikan hingga Akhir 2026
Investasi operasional yang para nelayan keluarkan sangat terukur, yakni hanya sekitar lima liter solar untuk sekali melaut.
Hal ini menunjukkan efisiensi tinggi dalam manajemen biaya operasional.
Ketelitian mereka dalam memilih waktu dan area tangkap menjadi kunci kesuksesan dalam meraih hasil laut yang berkualitas di tengah tantangan cuaca dan dinamika perairan pesisir.
Analisis Hasil Tangkapan dan Profitabilitas
Hasil tangkapan utama para nelayan mencakup komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti udang dan rajungan, yang kini menjadi primadona pasar lokal hingga skala nasional.
Udang kecil memiliki harga jual Rp30 ribu per kilogram, sementara udang besar mampu menembus angka Rp80 ribu per kilogram.




