Ia menambahkan, upaya ini memerlukan kolaborasi berkelanjutan antara regulator, pendidik, industri, dan komunitas.
OJK juga melihat perlunya memperluas jangkauan edukasi di luar ruang kelas, melalui platform digital dan kampanye nasional guna membangun ekosistem keuangan yang inklusif.
Baca Juga: BCA Syariah Gandeng Masjid Istiqlal Perkuat Literasi Keuangan Syariah yang Inklusif
Menekan Risiko Investasi Bodong
Senada dengan OJK, Chair of the OECD International Network on Financial Education (OECD/INFE), Magda Bianco, menyoroti tantangan di era digital.
Kehadiran berbagai instrumen investasi baru yang sering kali tidak kredibel menjadi ancaman nyata jika tidak dibarengi dengan kompetensi keuangan yang memadai sejak usia sekolah.
“Kemudahan akses informasi, hadirnya berbagai instrumen investasi baru, serta maraknya informasi investasi dari sumber yang tidak selalu kredibel menjadi peluang sekaligus risiko. Karena itu, kompetensi keuangan perlu dibangun sejak dini,” tutur Magda.
Magda menjelaskan, edukasi sejak dini memiliki dua keunggulan: pengetahuan lebih mudah tertanam secara permanen dan mampu memangkas kesenjangan akibat perbedaan latar belakang sosial-ekonomi siswa.
Selain itu, bukti empiris menunjukkan bahwa individu dengan kompetensi keuangan yang baik lebih tahan terhadap guncangan ekonomi, mampu menghindari jebakan utang berlebih, serta lebih rasional dalam melihat risiko dan imbal hasil (risk and return).
Baca Juga: OJK Resmikan Learning Center di Makassar, Perkuat Literasi Keuangan Indonesia Timur






