Sophia mengingatkan, tantangan era digital seperti disinformasi, serangan siber, hingga lompatan kecerdasan buatan (AI) menuntut ketahanan siber (cyber resilience) yang kokoh dari para calon pengambil kebijakan.
Baca Juga: Dua POJK Baru Terbit, OJK Sapu Bersih Perusahaan Efek dan MI Bermodal Cekak
“Jadi bahasa gaulnya ini nggak cuma pintar aja, tapi karakternya kuat, integritasnya kuat. Jadi pada saat nanti dihadapkan pada proses pengambilan keputusan, integritas ini turut berperan,” tambah Sophia.
IPK Tinggi Saja Nilainya Nol Tanpa Kejujuran
Sektor akademisi menyambut positif penetrasi OJK dalam membenahi karakter moral mahasiswa sebelum terjun ke industri profesional.
Kampus sepakat bahwa kecerdasan intelektual di atas kertas tidak akan berguna jika tidak ditopang oleh sifat amanah.
“Nilai IPK saja tidak cukup. Salah satunya apa? Integritas. Integritas, kejujuran. Kalau dalam bahasa agama itu tabligh, amanah, fathanah, sidik. Itulah sifat-sifat Rasul yang kalau dirangkum dalam satu kata, mungkin itulah integritas,” ujar Wakil Rektor IV UMS, Em Sutrisna.
Baca Juga: Cetak Rekor Baru, OJK Sebut 54 Persen Investor Pasar Modal Berusia di Bawah 30 Tahun
Guna membumikan budaya kepatuhan agar tidak sekadar menjadi formalitas administratif, OJK juga menantang kreativitas mahasiswa melalui Innovation Paper Competition.
Kompetisi karya ilmiah ini dibuka untuk menjaring gagasan segar serta rekomendasi kebijakan dari menara gading demi membangun ekosistem keuangan Indonesia yang kredibel dan bebas korupsi di masa depan. (*)





